Selasa, 12 Oktober 2010

BISNIS 087885011167

Program Elfasenior dibangun untuk memasyarakatkan dunia perdagangan via internet (e-commerce). Salah satu produk yang dipasarkan oleh Elfasenior adalah pulsa isi ulang dan nantinya akan dikembangkan kepada produk lainnya. Kenapa pulsa isi ulang yang menjadi produk utama ?

Karena sekarang ini ada sekitar 120 Juta pemakai ponsel di Indonesia dan hampir 90% menggunakan kartu prabayar. Jadi pulsa isi ulang merupakan produk yang sangat prospektif.


Bagaimana caranya jika saya ingin bergabung menjadi member ELFASenior?
Anda harus memiliki sponsor (jika tidak memiliki sponsor, anda bisa menghubungi perusahaan melalui Telepon/SMS/Chatting), membeli Pin pendaftaran Rp 200.000,- dari stokis terdaftar Biaya ini adalah untuk membeli hak keagenan. Kemudian daftarkan diri anda melalui Website : www.ELFASenior.com dan anda akan langsung mendapatkan nomor keanggotaan.
Apakah pulsa Rp 5.000,- akan langsung saya terima pada saat saya selesai melakukan pendaftaran?
Bahwasanya pulsa Rp 5.000,- tersebut akan diwujudkan dalam bentuk deposit pulsa.
Apakah biaya yang sudah saya setorkan sebesar Rp 200.000,- bisa saya batalkan atau diminta kembali?
Uang yang sudah terbukti masuk ke Perusahaan tidak bisa diminta kembali dengan alasan apapun dan uang tersebut merupakan franchise fee atas keanggotaan dalam ELFASenior program. Setiap member ELFASenior akan memiliki hak keagenan dan bisa menjual pulsa ke semua jenis operator yang berbeda hanya dengan menggunakan satu chip yang nomornya telah didaftarkan di ELFASenior.
Apakah seorang member boleh memiliki lebih dari satu hak keagenan?
Boleh, sepanjang member ybs memahami akan hak dan kewajibannya sebagai member.

KEMAMPUAN LUAR BIAS

Teknik Mempengaruhi Orang Lain
by Romi Satria Wahono

manajemen.jpgSaya bukan orang yang berpengaruh, itu sudah pasti, karena saya tidak punya apa-apa? Bukan konglomerat, bukan pejabat elit, tapi saya hanya seorang PNS golongan rendah di sebuah lembaga bernama LIPI ;). Yang pasti ada yang menarik, bahwa sebenarnya orang lain terpengaruh dengan kita, bukan hanya karena kedudukan atau kekayaan kita, tapi masih banyak faktor lain sehingga sampai pada kondisi dimana kita bisa mempengaruhi orang lain. Bahasa gampangnya, bagaimana sih cara mempengaruhi orang lain? Itu yang akan kita bahas kali ini. Ambil nafas dulu dan klik

Bagaimanapun juga pemahaman terhadap teknik mempengaruhi (influence tactics) orang lain menjadi satu spektrum penting, tidak hanya untuk seorang politikus, tetapi juga untuk para pemimpin baik formal maupun informal, pelatih bola, saleman, dan juga diperlukan bagi para pedjoeang IT yang sedang dalam usaha memperdjoeangan ide-idenya ;) . Usaha mengubah sikap, opini, dan perilaku orang lain (target person) dalam satu kerangka proses yang fitrah, smooth dan tanpa pertentangan, adalah muatan penting dari taktik atau teknik mempengaruhi.

Sebenarnya taktik mempengaruhi orang lain telah diformulasikan oleh banyak pakar dan peneliti, tentu bukan di desain untuk mempengaruhi orang dalam perbuatan kejahatan ;) . Pelakunya diharapkan tetap ada dalam rel kebenaran, dan diimplementasikan ke dalam spektrum berpikir menuju kepemimpinan yang efektif (effective leadership). Misalnya dalam manajemen organisasi, dimana seorang manajer dituntut untuk mengajak seluruh elemen organisasi bersama-sama dalam menyelesaikan permasalahan organisasi, menuju tujuan organisasi yang ingin dicapai. Seorang pelatih dan manajer bola yang memimpin pemain-pemain kelas dunia dan ingin mereka semua bisa bersatu, berdjoeang memenangkan pertandingan.

Beberapa teori dan formulasi tentang taktik atau teknik mempengaruhi telah bermunculan sejak 20 tahun yang lalu (Kipnis-1980; Schriesheim-1990; Yukl-1992, Ferris-1997). Dari perseteruan pendapat yang ada, boleh dikata yang banyak diterapkan dan dimutasikan dalam penelitian lanjutan adalah metode Influence Behavior Questionanaire (IBQ). Suatu metode yang dikembangkan oleh peneliti yang bernama Gary Yukl (1992), professor di University at Albany, Amerika. Metoda IBQ memformulasikan 9 strategi dan teknik mempengaruhi orang lain.

*

Rational Persuasion: Adalah siasat meyakinkan orang lain dengan menggunakan argumen yang logis dan rasional. Seorang dokter yang memberi nasehat kepada pasien yang perokok berat, dengan menjelaskan efek buruk merokok bagi paru-paru dan hasil penelitian yang membuktikan bahwa para perokok lebih rentan menderita penyakit kronis lain. Adalah salah satu contoh rational persuasion ini.
*

Inspiration Appeals Tactics: Adalah siasat dengan meminta ide atau proposal untuk membangkitkan rasa antusias dan semangat dari target person. Contoh nyata penerapannya adalah, seorang menteri yang membawahi departemen komunikasi dan informasi (kominfo), yang membuka kesempatan kepada seluruh komunitas IT untuk membuat proposal dan ide tentang pengembangan e-government di suatu negeri.
*

Consultation Tactics: Terjadi ketika kita meminta target person untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang kita agendakan. Misalnya adalah menteri kominfo diatas yang kembali berkonsultasi kepada seluruh komunitas IT di suatu negeri dalam upaya mengajak partisipasi aktif dalam implementasi cetak biru e-government yang telah diproduksi oleh departemennya.
*

Ingratiation Tactics: Adalah suatu siasat dimana kita berusaha untuk membuat senang hati dan tentram target person, sebelum mengajukan permintaan yang sebenarnya. Sendau gurau seorang salesman terhadap langganan, pujian seorang pimpinan terhadap bawahan sebelum memberi tugas baru, ataupun traktiran makan seorang partner bisnis adalah termasuk dalam ingratiation tactics ini.
*

Personal Appeals Tactics: Terjadi ketika kita berusaha mempengaruhi target person dengan landasan hubungan persahabatan, pertemanan atau hal yang bersifat personal lainnya. Kita bisa mengimplementasikannya dengan memulai pembicaraan misalnya dengan, “Budi, saya sebenarnya nggak enak mau ngomong seperti ini, tapi karena kita sudah bersahabat cukup lama dan saya yakin kamu sudah paham mengenai diri saya …”
*

Exchange Tactics: Adalah mirip dengan personal appeal tactics namun sifatnya adalah bukan karena hubungan personal semata, namun lebih banyak karena adanya proses pertukaran pemahaman terhadap kesukaan, kesenangan, hobi, dsb. diantara kita dan target person.
*

Coalition Tactics: Adalah suatu siasat dimana kita berkoalisi dan meminta bantuan pihak lain untuk mempengaruhi target person. Strategi kemenangan karena jumlah pengikut dipakai dalam siasat ini.
*

Pressure Tactics: Terjadi dimana kita mempengaruhi target person dengan peringatan ataupun ancaman yang menekan. Seorang komandan pasukan yang memberi ancaman penurunan pangkat bagi prajuritnya yang mengulangi kesalahan serupa. Adalah contoh implementasi pressure tactics ini.
*

Legitimizing Tactics: Adalah satu siasat dimana kita menggunakan otoritas dan kedudukan kita untuk mempengaruhi target person. Presiden yang meminta seorang menteri untuk menyusun rancangan undang-undang, kepala sekolah yang meminta guru menyusun kurikulum pendidikan adalah beberapa contoh penerapan legitimizing tactics.

Referensi:

1. Stephen P. Robbins and Mary Coulter, “Management (8th Edition)”, Prentice Hall, January 14, 2004.
2. G. A. Yukl and J. B. Tracey, “Consequences of Influence Tactics used with Subordinates, Peers, and the Boss”, Journal of Applied Psychology, 77, 525-535, 1992.

ttd-small.jpg

Sabtu, 18 September 2010

MLM

Lika - liku Multi Level Marketing

"Multi Level Marketing adalah suatu sistem pemasaran (marketing) dimana konsumen tidak hanya mendapat manfaat produk akan tetapi juga memiliki kesempatan untuk mendapat manfaat finansial dengan cara mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama sehingga terbentuk suatu komunitas konsumen yang terdiri atas beberapa (Multi) Tingkatan (Level) " ***** putudjajadiwangsa@gmail.com *****

* Home
* Tentang Putu Djajadiwangsa
* Perusahaan
* Video
* Photo
* Testimoni
* Tanya Jawab
* Kontak

Kamis, 08 Oktober 2009
Mengajak Tanpa Mengajak

Semua orang tentu saja memiliki kebebasan untuk mengutarakan dan mengekspresikan hasil pemikirannya. Pemikiran seseorang dengan manusia lainnya bisa saja sama, mungkin juga berbeda. Beragam.

Sekian banyak praktisi MLM (Multi Level Marketing) memiliki sekian banyak ragam pemikiran. Keberagaman pemikiran itu yang kemudian teraktualisasi pada beragam MLM yang akhirnya dipilih dan ditetapkan oleh masing-masing orang untuk ditekuni, untuk dijalankan dengan sekian banyak asa.

Apapun MLM yang akhirnya dipilih untuk ditekuni (atau bahkan untuk ditinggalkan) tentu saja adalah hasil dari proses berpikir, hasil dari memilih dan memilah, hasil dari sekian banyak pengalaman nyata atau paling tidak pengetahuan yang dimiliki pada saat itu. Dalam konteks ini MLM yang dipilih oleh seseorang mencerminkan 'siapa' orang itu. "Kita adalah apa yang kita pikirkan. MLM yang dipilih merupakan representasi dari pemikiran yang dimiliki oleh seseorang".

Mengutarakan pemikiran dan meng-ekspresikan pemikiran dalam konteks ber MLM ria harus disertai dengan kesediaan untuk menerima segala akibat dan harus disertai pula dengan kemampuan untuk mengatasi segala akibat yang ditimbulkannya.

Mengajak adalah aktifitas utama dalam ber MLM ria. Mengajak adalah aktifitas berbagi pemikiran dengan orang lain, mengajak adalah mengutarakan pemikiran yang kita miliki kepada orang lain yang - tentu saja - juga memiliki pemikiran dan tentu saja orang lain pun bisa berpikir untuk memikirkan segala pemikiran yang kita sampaikan yang dikemas dalam bentuk ajakan.

Seorang praktisi MLM tidak mungkin mengajak orang lain dengan cara diam. Menulis dan berbicara adalah sarana dasar dalam mengutarakan pemikiran. Menulis dan berbicara adalah keterampilan berbahasa yang harus selalu diasah bersamaan dengan keterampilan membaca dan menyimak.

Mengajak orang lain - tentu saja - mendatangkan konsekwensi nyata. Konsekwensi yang paling ditakuti oleh seorang (pemula) praktisi MLM adalah ketakutan akan sebuah penolakan. Tidak semua orang memiliki kesiapan mental untuk menerima sebuah penolakan itu sebabnya banyak member MLM yang memilih diam. Pasif. Itu sebabnya sekian banyak praktisi MLM akhirnya berhenti total setelah "dihantam" oleh sekian banyak penolakan.

Satu-satunya cara yang paling aman agar tidak ditolak adalah dengan cara tidak mengajak. Salah satu cara mengajak yang paling aman dari resiko penolakan adalah dengan cara tidak mengajak.

Bagaimana bisa kita mengajak orang lain kalau kita tidak mengajak ? Tentu saja bisa. Salah satu cara yang paling sederhana adalah dengan menjadikan diri kita sendiri sebagai bukti nyata dari kehebatan suatu produk yang kita konsumsi/gunakan, sebagai bukti nyata dari kehebatan suatu sistem MLM yang kita ikuti.

Mengajak tanpa mengajak adalah upaya kita untuk membuat orang lain berpikir kemudian bertanya atas keinginan mereka sendiri - bukan - atas inisiatif dari kita.

Bertanya adalah manifestasi nyata dari aktifitas berpikir. Bertanya adalah bentuk nyata dalam mengutarakan pikiran. Sebagai praktisi MLM tentu saja kita akan sangat senang ketika mendapat sebuah pertanyaan dari orang lain - karena - dengan demikian kita memiliki kesempatan untuk mengajak dengan cara menjawab. Memiliki kesempatan untuk "Mengajak tanpa mengajak". Memiliki kesempatan untuk bertukar pikiran dengan cara tanya jawab.

MLM bukan bisnis biasa, bukan sekedar mendistrribusikan suatu produk. MLM adalah bisnis distribusi intelektual, mendistribusikan "isi otak" dengan cara bertukar pikiran, berdialog, berdiskusi melakukan tanya jawab atas dasar kesetaraan. Bukan dengan cara "cuci otak" lewat sekian acara "Sucess Seminar" dimana leader-leader dipuji dan dipuja seperti dewa, dimana leader-leader jingkrak-jingkrak nddak karuan di atas panggung diiringi musik yang hingar bingar sambil pamer cek, mobil dan rumah mewah dimana sekian ribu member hanya bertindak sebagai penonton yang sibuk tepuk tangan, bersorak sorai dan sekali - kali berteriak "Rrrrruuuuaaarrrrr biaaasaaa.... !". Aktifitas seperti ini jelas bukan kegiatan bertukar pikiran, tapi kegiatan meng-hipnotis- manusia dengan cara massal yang menciptakan sekian banyak member MLM yang bekerja tanpa berpikir. Percis seperti robot. Nddak beda dengan Zombi. :-(

Seseorang hadir ke seminar "Gituan" karena diundang, diajak. Mengajak orang lain memiliki konsekwensi - apalagi - mengajak orang lain untuk mengikuti seminar yang kagak jelas seperti itu. Konsekwensinya sangat logis dan sangat jelas, ketika orang yang kita ajak tidak mendapat apa yang ia inginkan (Rumah, mobil, duit) ... maka dengan mudah mereka akan mengatakan bahwa si pengajak adalah seorang penipu, tukang bo'ong, tukang ngibul.

Mengajak tanpa mengajak adalah salah satu cara ber MLM ria yang relatif aman. Menjadikan diri kita sebagai bukti nyata dari kehebatan suatu produk dan sebagai bukti nyata dari keunggulan suatu sistem.

PENGARUH AGAMA DI DALAM KEHIDUPAN

Seorang pakar pendidikan dari Malaysia bernama Hasan Langgulung pernah mengatakan, bahwa dunia Islam dahulunya pernah mengalami kejayaan dan menjadi superpower selama kurang lebih 7 abad yang peninggalannya hingga saat ini masih bisa kita lihat. Islam dahulu pernah menguasai Spanyol selama 7 abad, dan masih banyak sisa-sisa arsitektur Islam di negara ini. Bahkan Spanyol pernah tercatat di dalam Guinness Book of Record sebagai negara yang paling tinggi kunjungan wisata antar negaranya. Hal ini dikarenakan adanya arsitektur dan bangunan yang Indah di negara ini, seperti di Seville, Granada, yang semuanya itu adalah karya-karya besar Umat Islam.

Islam juga pernah berkuasa di India, Sisilia, Italia, dan beberapa negara lainnya. Ketika itu Umat Islam maju dalam berbagai bidang: kedokteran, arsitektur astronomi, botani, farmakologi, dan seluruh cabang ilmu pengetahuan modern. Hal ini menurut Hasan Langgulung dikarenakan Umat Islam saat itu mengamalkan Asmaul Husna. Mengamalkannya bukan hanya sekedar dihafal dan dibaca, melainkan juga menghayati makna yang terkandung di dalamnya. Misalkan, Allah bersifat “Al-’Alim” (Maha Mengetahui), maka untuk menghayatinya kita juga berusaha untuk menjadi orang yang ‘alim, menjadi orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Allah juga bersifat “Al-Musawwir” (Maha Kreatif, Maha Inovatif, Maha Menghasilkan karya-karya besar), maka untuk menghayatinya kita juga semestinya menjadi orang yang kreatif.Kita bersyukur kepada Allah, bahwa dalam kesempatan ini kita me-recharge (mengisi) kembali agar kita memiliki spirit dengan nilai-nilai, dengan sifat-sifat Allah, dan tentunya juga sesuai dengan praktek dan contoh yang diberikan oleh Rasulullah.

Allah berfirman:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (Q.S. Ar-Ruum: 30)

Pada ayat ini, Allah dengan tegas menyatakan dalam kalimat perintah: Fa aqim wajhaka (Maka hadapkanlah wajahmu). Jadi, kata “aqim” merupakan fi’il ‘amr, yang bisa berarti mendirikan, membangun, mengkonstruksi, ataupun menciptakan sesuatu yang kuat.

Di sini kita mencermati, bahwa dalam beragama memang harus secara sungguh-sungguh, jangan setengah hati, dan juga harus total. Jika kita ingin mendirikan suatu bangunan yang kokoh, maka kita tidak boleh asal-asalan mendirikannya. Kita harus mengundang arsiteknya perencananya, ada tes tanahnya, lalu kemudian didesain konstruksi dengan situasi tanahnya, bahan materialnya, waktu pengerjaannya, pengalaman, dan lain sebagainya, sehingga bangunan tersebut menjadi kokoh.

Maka hadapkanlah wajahmu. Dari seluruh panca indera kita, pada tubuh ini terdiri dari berbagai macam organ, yang semua unsur fisik tersebut diwakili oleh wajah. Wajah juga mencerminkan berbagai macam perasaan kita: sedih, senang, murung, susah, dan perasaan-perasaan lainnya akan tercermin di wajah ini.

Ketika kita bertemu dengan orang lain, maka wajah pulalah yang kita tampakkan. Senyum yang kita berikan juga bisa mengalirkan energi. Rasulullah mengatakan, bahwa di antara sedekah yang murah-meriah adalah senyum. Dengan senyum yang terpancar dari wajah kita, maka akan ada komunikasi batin dan ada energi yang masuk ke orang yang kita ajak berkomunikasi. Lalu orang yang kita ajak berkomunikasi itu juga tersenyum membalas senyuman kita. Jika sudah sama-sama tersenyum, maka urusan selanjutnya akan lancar.

Jika di dalam ayat tersebut menyatakan untuk menghadapkan wajah, maka berarti dalam beragama bukan hanya wajah, melainkan semuanya harus ikut beragama. Mata kita ikut beragama, yaitu dengan cara jangan melihat yang diharamkan oleh Allah. Telinga kita juga ikut beragama, yaitu dengan cara tidak mendengarkan hal-hal yang bisa membawa bencana. Tangan kita beragama, yaitu dengan mengerjakan hal-hal yang baik-baik. Kaki kita beragama, yaitu dengan pergi ke tempat yang baik. Hati kita bergama, yaitu hanya kita peruntukkan kepada yang lurus-lurus di jalan Allah. Jadi, semua yang ada pada diri kita ini hadapkanlah kepada agama secara totalitas.

Di kalangan para ahli, ada kajian-kajian tingkatan beragama. Tingkatan tersebut, yaitu:

Pertama, fiqh

Yang mengatur tata cara beragama adalah fiqh. Karena itulah, para ulama sepakat menjadikan ilmu fiqh fardhu ‘ain untuk dituntut. Ilmu fiqh merupakan ilmul hal, yaitu ilmu yang selalu berkaitan dengan kehidupan keseharian kita. Mulai dari kita lahir hingga meninggal dunia, maka fiqh lah yang bekerja. Dengan ilmu fiqh, maka ada standard untuk kita melaksanakan berbagai macam amal ibadah. Kalau kita mau bekerja dengan rapi, maka harus ada SOP (Standard Operasional Prosedur). Dalam hal ini, fiqh merupakan SOP kita dalam melakukan berbagai macam amal ibadah. Semuanya bermula dari fiqh, dan karena itu fiqh tidak boleh kita tinggalkan.

Kedua, sufistik (tasawwuf)

Untuk bisa beragama secara holistik (menyeluruh), maka kita naik ke tingkat selanjutnya, yaitu tingkat sufistik (tasawwuf), yang disebut sebagai mystical approach (pendekatan sufistik). Ketika kita salat, ternyata Allah hadir di dalam diri kita. Kadang-kadang pikiran kita ke mana-mana ketika menunaikan ibadah salat. Kalau ketika salat kita ingat di pasar, maka berarti tasawwufnya belum ada. Pada saat seseorang salat, jika fiqh dilengkapi dengan tasawwuf, maka sebenarnya ada dialog di dalam salatnya itu. Di dalam setiap ayat dan bacaan-bacaan yang kita lafazkan ketika salat, itu sebenarnya ada sahut-sahutan dengan malaikat, namun kita tidak mendengar sahutan dari malaikat tersebut. Karena itulah, janganlah terlalu cepat ketika kita melafazkan bacaan-bacaan salat tersebut. Lafaz-lafaz ketika salat harus kita baca secara tertib. Maka dengan dimensi sufistik ini, maka sifat-sifat Allah akan mengalir, energi-energi tersebut akan mengalir di dalam diri dan kehidupan kita.

Sudah banyak kajian-kajian tentang kecerdasan emosional, dan itu sudah masuk ke dalam manajemen bisnis. Ada buku yang ditulis oleh seorang ahli di bidang komunikasi tentang kecerdasan emosional yang sering dirujuk oleh para komunikator. Ia mengatakan, kalau seseorang mempunyai kecerdasan emosional, maka ucapannya itu akan memiliki resonansi, akan memiliki vibrasi (getaran). Dari resonansi itu, ketika dia menyalurkan sifat kasih sayang, maka sifat kasih sayangnya itu menempel kepada orang tersebut. Ketika dia menyalurkan sifat sabar, maka sifat sabarnya itu menempel kepadanya. Ketika dia menyalurkan sifat ikhlas, maka sifat ikhlasnya itupun menempel kepadanya. Terjadinya komunikasi seperti ini, antara lain dengan pendekatan spiritual emosional. Ilmu tasawwuf mengatur kita dalam hal ini, sehingga kita mempunyai spirit, mempunyai jiwa.

Menurut suatu penelitian, seorang pimpinan yang memiliki kecerdasan emosional, maka akan menyebabkan karyawannya bekerja secara produktif. Hal ini dikarenakan karyawannya merasa ada aliran energi yang baik yang diisikan kepada mereka, yang kemudian menjadikan mereka bisa bekerja dengan penuh semangat dan gairah. Yang masuk ke dalam diri mereka adalah virus-virus yang disebut oleh David McClelland sebagai Need of Achievement, yaitu semangat untuk membangun. Karena itulah, dalam hal ini pemimpin menjadi sangat penting. Ketika virus yang dimasukkannya adalah virus negatif (virus yang buruk): seperti rasa benci, iri, dengki, hasud, maka orang yang dimasuki oleh virus tersebut akan error dan hang.

Ilmu yang mengatur hal seperti ini adalah aspek tasawwuf. Imam Al-Ghazali (dalam kitabnya Ihya Ulumuddin) mencoba memadukan antara fiqh dan tasawwuf. Beliau mengatakan, agar kehidupan ini bermakna, maka fiqh didampingi dengan tasawwuf. Seperti misalnya ketika beliau sedang berwudhu’, maka menurutnya, berwudhu’ itu bukan hanya sekedar mencuci tangan luarnya supaya bersih, tetapi ketika mencuci tangan harus ada dialog dengan tangan: “Hai tangan, apa yang kau perbuat hari ini? Apakah perbuatannya baik atau buruk?”

“Hai kaki, apa yang telah kau perbuat?”

Dijawab oleh kaki, “Saya sudah berbuat baik, yaitu membantu seorang tua renta untuk menyeberangi jalan.”

Ketika mencuci kepala, maka kita tanyakan, “Hai kepala, apa yang telah kau pikirkan hari ini?”

Ketika mencuci mulut, maka kitapun bertanya, “Hai mulut, apa yang telah kau ucapkan hari ini?”

Ketika mencuci telinga, kitapun menanyakan, “Hai telinga, apa yang kau dengar hari ini?”

Dengan melakukan semua ini, maka kita akan mendapatkan dua macam kebersihan. Jika pada fiqh adalah kebersihan lahir, yang disebut sebagai thaharah. Sedangkan pada tasawwuf adalah kebersihan batin, yang disebut sebagai tazkiyah.

Ketiga, ideologi

Tingkatan ini adalah tingkat program, yaitu pendekatan ideologis. Ideologis adalah pemikiran-pemikiran yang sudah matang, pemikiran-pemikiran yang sudah dikaji secara mendalam, lalu kemudian menjadi program, dan program ini harus dilaksanakan. Dalam kaitan ini, maka ketika selesai salat kita mengucapkan “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh” ke sebelah kanan dan kiri. Apakah artinya ini? Apakah hanya sekedar menolehkan kepala? Kalau hanya sekedar menolehkan kepala, robot juga bisa. Lantas, apakah sebenarnya makna dari salam ke kanan dan ke kiri tersebut? Maknanya adalah, bahwa ibadah salat yang sudah kita bangun, spirit yang sudah kita lakukan, itu semuanya harus menjadi program yang terwujud di dalam kehidupan, yaitu kita lihat keadaan di kiri kanan kita, keadaan di sekitar lingkungan kita.

Karena itulah, ibadah mahdhah (hablumminallah) itu harus diikuti dengan hablumminannas. Ketika kita menengok ke kanan dan ke kiri, maka kita melihat apakah masalah yang harus dihadapi di dalam masyarakat. Mungkin di sebelah rumah kita ada anak yatim yang perlu disantuni. Mungkin juga di sebelah kita ada orang yang sakit parah yang memerlukan pertolongan, ada orang yang sedang mengalami kesulitan, dan sebagainya, yang ini harus kita lihat dan kita bantu. Dalam konteks inilah masuk ke dalam program yang sifatnya aksi (gerakan). Ini merupakan bagian yang ketiga dari ajaran agama. Setelah kita mengamalkan aspek fiqhnya, aspek tasawwufnya, kemudian masuk kepada aspek sosial. Berkaitan dengan hal ini, para ahli sering melihat, bahwa terkadang masih ada kesenjangan antara aspek fiqh (ritual), aspek spiritual, dan aspek sosialnya. Padahal kalau kita teliti, ternyata seluruh ibadah di dalam Islam mempunyai dampak sosial.

Imam Ayatullah Khomaini pernah membandingkan, ternyata ayat yang berkaitan dengan ibadah sosial lebih banyak dibandingkan ayat yang berkaitan dengan ibadah mahdhah (ibadah individual).

Jika saudara-saudara kita sekarang sebagian sudah berada di Makkah Al-Mukarramah (sedang menunaikan ibadah haji), yang tidak lama lagi akan melaksanakan puncak ibadah haji, cobalah renungkan makna ibadah haji ini. Ternyata makna dari ibadah haji ini penuh dengan nilai-nilai sosial, semangat perjuangan.

Thawaf apakah hanya sekedar berputar-putar mengelilingi Ka’bah?

Ternyata makna dari thawaf adalah, bahwa hidup ini harus dengan perjuangan. Dan setiap perjuangan harus dimulai dengan menyerap nilai Allah. Karena itulah, thawaf dimulai dari ruknul yamani. Kita mulai dengan mengucapkan: “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar,” lalu kitapun mengelilingi Ka’bah. Jadi, perjuangan itu dimulai dari niat semata-mata karena Allah. Terus mengelilingi, kemudian ketika sampai lagi di ruknul yamani, kita mengucapkan lagi “Allahu akbar“.

Kemudian kita melakukan sa’i.

Sa’i juga memiliki makna perjuangan, yaitu jalan-jalan kecil, lari-lari kecil. Di dalam sejarahnya, sa’i adalah memperjuangan keselamatan manusia, yaitu Ismail (puteranya Nabi Ibrahim, yang kemudian setelah dewasa juga diutus menjadi nabi). Ismail yang ketika itu masih bayi dan ibunya (Siti Hajar) ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di tengah padang pasir yang tandus.

Pada waktu itu Nabi Ibrahim berdoa (seperti termaktub di dalam Alquran):

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo`a: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali“. (Q.S. Al-Baqarah: 126)

Itulah yang ditinggalkan dan dipesankan oleh Nabi Ibrahim ketika meninggalkan Siti Hajar dengan putranya yang masih kecil (Ismail).

Jadi dalam sejarahnya, sa’i merupakan perjuangan menyelamatkan bayi, menyelamatkan manusia. Di dalam perjuangan itu, dimulai dari Bukit Shafa. “shafa” artinya bersih, niat semata-mata karena Allah. “marwa” artinya berkembang. Ada perjuangan, kemudian kemanusiaan.

Begitu juga ketika wukuf di Padang Arafah. “arafah” artinya mengenal, yaitu mengenal secara mendalam. Mengenal, melihat, mengetahui, bukan dengan panca indera, melainkan dengan hati nurani. Maka orang yang wukuf di Padang Arafah, ia akan semakin arif dan bijaksana. Dia mengetahui, bahwa betapa dirinya di hadapan Allah sangat faqir.

Maka digambarkan pada waktu itu manusia tidak boleh membawa apa-apa: pangkat, harta, kedudukan, semuanya ditinggalkan, kemudian hanya mengenakan pakaian putih. Mengapa demikian? Mengapa orang yang berhaji itu harus meninggalkan semua pakaian kebesarannya? Hal ini agar jangan sampai mengganggu hubungan manusia dengan Allah. Hubungan manusia dengan Allah kadang-kadang terganggu oleh berbagai macam faktor: kadang-kadang terganggu oleh pakaian. Jika kita memakai jas, berdasi, dan mentereng, rasanya lain dibandingkan orang yang hanya mengenakan pakaian yang biasa saja, seakan-akan orang yang berpakaian biasa saja itu tidak bonafit. Kalau kita mengenakan pakaian yang indah-indah, maka rasanya kita ini yang paling tampan sedunia. Begitu juga kalau mengenakan pakaian jenderal (militer), seakan-akan kita ini begitu gagah dan sangat berkuasa.

Jadi, pakaian yang kita kenakan itu memberikan dampak psikologis, memberikan pengaruh kejiwaan kepada orang yang memakainya. Maka dalam pelaksanaan ibadah haji, lepaskan semua pakaian itu, supaya hubungan dengan Allah tidak terganggu. Dengan begitu, maka dia menjadi orang yang arif.

Allah berfirman:

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (Q.S. Al-Baqarah: 197)

Seperti yang termaktub pada ayat di atas, bahwa selain dilarang berbuat “rafats” (berkata yang menimbulkan hal-hal yang bisa membangunkan syahwat), juga dilarang untuk fusuq (melakukan pelanggaran), dan jidaala (bertengkar/berbantah-bantahan). Fusuq berarti orang yang tahu hukum tetapi melanggar. Jangan bertengkar berarti masuk ke masalah sosial, supaya bisa membangun komunikasi yang baik.

Dari cuplikan ayat di atas, betapa kita lihat, bahwa ajaran Islam itu terkait dengan masalah sosial. Pada ayat-ayat yang lain (berkaitan dengan ibadah haji) juga ditegaskan, bahwa dilarang membunuh binatang dan memotong tanaman (lihat Al-Maidah ayat 1, 2, 95). Bahkan di akhirat nanti, seperti yang termaktub pada sebuah hadis qudsi disebutkan:

Suatu ketika, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Wahai para sahabat, tahukah kamu, siapakah di akhirat nanti yang menjadi orang yang bangkrut?”

Dijawab oleh para sahabat, “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak mempunyai dinar (uang emas) dan dirham (uang perak).”

Kata Rasulullah, “Bukanlah itu, melainkan orang yang bangkrut itu adalah orang yang datang menghadap Allah dengan membawa pahala salat, pahala zakat, pahala puasa, pahala haji, dan pahala lainnya. Tapi datang malaikat melaporkan: Ya Allah, orang ini memang betul pahala ibadahnya banyak, tetapi orang ini pernah mencaci maki, orang ini pernah menyakiti hati orang lain di depan umum, orang ini pernah menuduh tanpa bukti, orang ini pernah memukul orang lain, orang ini pernah mencuri, orang ini pernah menumpahkan darah. Akhirnya orang tersebut tidak jadi masuk ke surga, ia ditahan.”

Seperti apakah ditahannya? Pahala kebaikan dari salat, zakat, puasa, haji, dan pahala-pahala lainnya dibagi-bagikan kepada orang yang pernah disakitinya, sampai habis pahala yang dimilikinya. Setelah habis pahala kebaikan ibadahnya itu, tinggallah keburukan orang-orang yang dizaliminya yang kemudian ditimpakan kepadanya. Maka kemudian dia dilemparkan ke dalam api neraka.

Ibadah yang kita lakukan itu harus berdimensi sosial. Kalau dikaitkan lebih jauh lagi, ternyata masalah sosial itu menjadi prioritas. Misalkan jika kita puasa, yang puasa tersebut kita laksanakan sambil melakukan perjalanan. Perjalanan itu bisa meletihkan. Alquran menyatakan, bahwa kita yang berada di dalam perjalanan diperbolehkan untuk berbuka. Atau juga ketika kita dalam keadaan sakit, yang menurut penelitian para dokter, bahwa jika puasanya diteruskan, maka sakitnya akan bertambah parah. Karena itulah, menurut yang termaktub di Alquran, kita diperbolehkan berbuka jika dalam keadaan sakit. Ini artinya, bahwa ibadah di dalam Islam pun memperhatikan keselamatan manusia.

Dimensi sosial inilah yang kita inginkan, yang bermula dari aspek fiqh, aspek tasawwuf, yang kemudian meningkat kepada aspek sosial. Dari sini kemudian naik tingkat lagi ke tingkat ke empat, yaitu pendekatan logikal, kita perkuat argumentasi kita. Kita perkaya keagamaan kita dengan berbagai bahan bacaan, sehingga keberagamaan kita itu menjadi kokoh.

Menurut beberapa buku, akhir-akhir ini menunjukkan keadaan, yaitu orang-orang semakin percaya bahwa ajaran Islam memang ajaran yang terkemuka, ajaran Islam yang bisa memecahkan problem.

Sekarang ini sedang terjadi krisis ekonomi global. Sudah banyak yang stress, ada juga yang bunuh diri, juga ada yang menjadi orang gila. Pengaruhnya ternyata sudah sampai ke Indonesia, antara lain harga hasil pertanian dan perkebunan anjlok, sehingga para petaninya banyak yang stress. Menurut informasi dari media massa, bahwa akan terjadi PHK lebih dari 12 ribu orang.

Dalam keadaan seperti ini, maka agama yang harus menjadi pegangan, karena agama memberikan pedoman bagi manusia dalam seluruh keadaan. Antara lain kini semakin diyakini, bahwa Sistem Ekonomi Islam merupakan sistem ekonomi yang paling kuat. Menurut Islam, mata uang itu adalah emas dan perak. Karena mata uang yang paling kuat adalah mata uang emas, yang ternyata hampir tak terkena goncangan.

Menurut ajaran Islam, juga dilarang untuk melakukan monopoli. Islam sudah menawarkan satu prinsip ekonomi yang balance (seimbang). Di dalam Islam dipersilakan untuk kaya. Tetapi bersamaan dengan kekayaan, dia bersedekah, dia berinfak, dia berzakat, dan dia berwakaf. Maka ketika dia makmur, yang lain pun juga ikut makmur. Namun, orang yang diberi zakat dan infak pun jangan ketergantungan terus-menerus. Sebaiknya, ketika diberi zakat, maka harus ada perubahan ke depannya. Jika tahun ini dia diberi zakat, maka tahun yang akan datang dialah yang memberi zakat.

Di dalam krisis ini, mental spiritual Islam sudah memberikan petunjuk, dan itu cukup banyak. Antara lain, misalnya ketika orang menghadapi keadaan pailit (bangkrut), keadaan kekurangan, maka Islam memberikan tuntunan untuk bersabar. Di dalam psikologi modern, sabar diartikan sebagai regresi, yaitu menurunkan kadar ambisi kita. Rasulullah pernah mengatakan (dan juga di dalam ajaran agama lain), bahwa sebab manusia stress itu karena terlalu tinggi obsesinya. Dengan bersikap sabar, maka jika dia menginginkan 100, maka kemudian kadarnya diturunkan menjadi 60. Selain sabar, yaitu sabar untuk menerima kenyataan dari standar 100 diturunkan menjadi 60, juga pada saat yang bersamaan dia juga bersyukur kepada Allah.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (Q.S. Ibraahim: 7)

Dengan bersyukur, sekecil apapun yang didapatkan, maka di hadapan orang yang bersyukur menjadi bermakna. Tetapi bagi orang yang tidak pernah bersyukur, maka berapapun menjadi tidak ada artinya. Misalkan dia mendapatkan untung sejuta, lalu dia berkata, “Ya…, hanya sejuta. Kemarin untungnya 3 juta.” Besoknya lagi dia mendapat 700 ribu, lalu dia berkata, “Ya…, cuma 700 ribu. Kemarin untungnya sejuta.” Sehingga tak pernah ada habisnya ia mengeluh.

Bagi orang yang bersyukur, ketika ia berada dalam keadaan yang sulit, maka ia akan bertawakkal kepada Allah.

Agama sudah memberikan petunjuk-petunjuk yang lengkap untuk menghadapi semua ini. Maka pada Q.S. Ar-Ruum ayat 30 dikatakan: fa aqim wajhaka. Ternyata kalimat ini luas sekali artinya, baik itu dimensi fiqh, tasawwuf, sosial, ideologi, dan dimensi kognitifnya.

Fa aqim wajhaka liddiini. Menurut para ahli ilmu nahwu, kata “ad-diin” di sini bentuknya ma’rifat. Di dalam Ilmu Nahwu, ada nakirah dan ada ma’rifat. Jika nakirah adalah umum, misalkan kata “diinun“, maka ma’rifat adalah khusus, misalkan kata “ad-diin“. Dalam hal ini, agama yang dimaksud adalah agama yang diturunkan oleh Allah, bukan agama yang dihasilkan dari seminar, bukan pula agama hasil penelitian, tetapi agama yang “that is the revelation from God in The Holy Quran“, yaitu agama yang diwahyukan oleh Tuhan di dalam kitab suci Alquran.

Mengenai orisinalitas Alquran, maka hal ini sudah terbukti. Hal ini sudah bisa dibuktikan, misalkan melalui pendekatan sejarah. Bahwa Alquran ditulis pada zaman Rasulullah masih hidup, dan beliau yang langsung mengedit Alquran tersebut, yang ini menurut istilah pada Ilmu Ulumul Qur’an disebut tauqif (penetapan Rasulullah). Jadi, ketika turun ayat Alquran, maka Rasulullah langsung memerintahkan para sahabat ketika itu untuk menyusun urutan surah dan ayat Alquran seperti yang bisa kita baca hingga saat ini (kini mungkin seperti menyusun dan menyimpan berkas-berkas di dalam file-file).

Di samping itu, penyusunan Alquran ini juga dibantu oleh para penghafal Alquran ketika itu. Jadi, kalau ada lembaran-lembaran Alquran itu yang hilang, maka masih ada back-upnya (sesuai dengan yang dihafal oleh para penghafal). Dan memang pada masa itu, tradisi di Arab adalah tradisi menghafal, sedangkan tradisi baca-tulis mungkin tidak ada, dan kalaupun ada, maka tidak sepenting tradisi menghafal. Oleh karena itulah, tradisi menghafal tersebut hingga saat ini masih ada di Arab. Menghafal Alquran bahkan menjadi persyaratan untuk masuk ke perguruan tinggi. Setelah seseorang masuk ke perguruan tinggi, barulah orang tersebut bertahassus dia mau menjadi apa. Misalkan mau menjadi dokter, silakan, tetapi dokter yang hapal Alquran. Mau menjadi ahli pertanian, silakan, tetapi ahli pertanian yang hapal Alquran. Mau menjadi insinyur, silakan, tetapi insinyur yang hapal Alquran. Mau menjadi tentara, silakan, tetapi tentara yang hapal Alquran. Sehingga agama itu betul-betul menjiwai seluruh aspek kehidupan.

Ada masa yang disebut sebagai Golden Age (Masa Emas). Masa ini pada setiap anak yaitu dari berumur 4 hingga 12 tahun (masa anak ketika TK hingga lulus SD). Inilah masa keemasan, di mana memori anak dengan mudah bisa menghapal. Menurut Ilmu Neurologi (ilmu tentang syaraf), bahwa pada otak manusia itu ada 200 milyar sel otaknya. Pertumbuhannya mulai dari dalam rahim (ketika terjadi ‘alaq). Pembentukan sel tersebut dalam setiap detik sekitar 25 ribu sel yang berkembang, hingga terus berkembang sekitar 200 milyar sel otak manusia tersebut. Sel-sel ini ada Golden Age-nya, di mana ada masa memorizing.

Suatu saat saya berkunjung ke Iran (tepatnya di Kota Teheran). Di sana saya menemukan 200 anak di bawah umur 10 tahun yang sudah hapal Alquran. Anak-anak ini juga pernah dites di London. Kecepatan mereka untuk mencari ayat Alquran dibandingkan dengan kecepatan komputer, ternyata anak-anak ini lebih cepat dibandingkan komputer.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Ternyata sistem komputer belum bisa menyaingi otak manusia. Diprediksi, bahwa baru pada tahun 2030 akan ada komputer yang servernya itu bisa menyimpan seperti halnya sel otak manusia. Tapi, sepertinya saya tak terlalu yakin akan prediksi ini. Otak manusia yang diciptakan oleh Allah memorizingnya begitu kuat.

Di sinilah kemudian kepada agama, di mana Alquran berpedoman kepada Ad-Diin, kemudian diperkuat oleh Hadis Rasulullah, kemudian diperkuat lagi oleh keterangan para ulama, seperti yang termaktub pada Alquran:

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. An-Nisaa: 59)

Menurut Imam Al-Maraghi dalam Kitabnya Tafsir Al-Maraghi, bahwa Ulil Amri itu ada dua macam: Al-Amru fiddiin (yaitu ulama) dan Al-Amru fiddaulah atau Al-Amru fiddunya (yaitu umara’). Jadi menurut Imam Al-Maraghi, bahwa ulama dan umara’ itu sama-sama ulil amri. Maka berdasarkan ayat ini, bahwa kawin di bawah tangan itu sebenarnya tidak sah, karena tidak mentaati ulil amri. Apalagi dalam hal ini kaidahnya adalah maslahatul mursalah (kemaslahatan umat).

Liddiini haniifa (beragama itu dengan tulus). Metode beragama memang berbeda dengan metode yang lainnya. Misalkan di dalam metode ilmu pengetahuan, bahwa sebelum kita menerima dan mempercayai sesuatu, maka kita skeptis dahulu terhadap hal tersebut. Kita harus ragu dan memverifikasi dahulu hal tersebut. Setelah teruji benar, barulah kita menerima dan mempercayai hal tersebut. Tetapi agama tidak boleh begitu. Agama diterima dahulu, karena agama adalah dari Allah yang sudah pasti benar. Kita meyakini bahwa agama adalah dari Allah dan sudah pasti benar.

Dengan agama, hidup jadi mempunyai tujuan jangka panjang. Dengan agama, hidup kita menjadi semakin tenang, karena dimiliki oleh Allah. Mudah-mudahan keberagamaan kita semakin mantap, semakin mempunyai nilai resonansi, semakin memiliki vibrasi, getaran di dalam kehidupan, sehingga akan membawa manfaat di dunia dan akhirat. [Aan]

1 comment 5 Desember 2008
Provokator Haji

PROVOKATOR HAJI

Disarikan dari Ceramah Ahad

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub, M.A.

pada tanggal 16 November 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Sesuai dengan catatan yang dapat dipercayai, bahwa pada tahun 1994, jamaah haji Indonesia hanya 150 ribu orang. Quotanya adalah 220 ribu, yang ini sejak beberapa tahun lalu quota tersebut sudah selalu terpenuhi. Karena itulah, jika mendaftar untuk berhaji sekarang, maka baru bisa berangkat pada tahun 2010. Inilah karena begitu banyaknya orang yang pergi haji. Mengapa bisa menjadi banyak seperti ini? Hal inilah yang akan kita bahas kali ini.

Menurut catatan sejarah, bahwa Rasulullah mempunyai kesempatan tiga kali untuk beribadah haji. Tetapi selama hidupnya dengan tiga kali kesempatan itu, hanya satu kali Rasulullah melaksanakan ibadah haji.

Rasulullah mempunyai kesempatan ratusan kali untuk beribadah umrah, bahkan ribuan kali kesempatan. Tetapi Rasulullah melaksanakan ibadah umrah hanya empat kali: yang pertama gagal (6 H), karena Mekkah masih dikuasai oleh orang-orang musyrik, yang ketika itu baru diizinkan untuk berumrah pada tahun 7 H.

Pada tahun 8 H, Mekkah sudah dikuasai oleh Islam, tetapi Rasulullah tidak melakukan ibadah umrah dan haji. Pada tahun 9 H, Rasulullah barulah melaksanakan ibadah umrah. Pada tahun 10 H, Rasulullah melaksanakan ibadah umrah bersama haji. Jadi selama hidupnya, Rasulullah hanya melaksanakan umrah yang sunnah itu sebanyak dua kali.

Bandingkan dengan orang Indonesia yang jika mempunyai uang, maka maunya berumrah setiap bulan, serta berhaji setiap tahun. Dan ternyata bukan cuma di Indonesia, di negara-negara lain pun juga seperti itu. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini dikarenakan:

Pertama, ada anggapan, bahwa semakin sering ke Mekkah, maka orang tersebut akan semakin baik; baik dalam hal ibadahnya karena sering datang ke rumah Allah, baik juga karena kantongnya.

Ada anggapan di sebagian daerah di Indonesia, jika seorang pria sudah pernah berhaji sebanyak dua kali, maka dia akan mudah untuk mencari istri yang kedua. Mengapa bisa demikian? Karena orang yang sudah berhaji sebanyak dua kali ini dianggap bagus. Jika anggapan ini benar, maka Rasulullah tidaklah bagus, karena selama hidupnya Rasulullah hanya berhaji sebanyak satu kali.

Kedua, karena gencarnya iklan dan promosi untuk haji dan umrah. Cobalah lihat pada harian seperti Republika, di sana oknum-oknum kyai dan oknum-oknum ustadz semuanya menjadi bintang iklan haji dan umrah. Dan ternyata hal seperti ini tidak hanya di Indonesia, di negara lain pun seperti itu.

Tadinya saya pikir, mungkin fenomena ini hanya terjadi di Indonesia, sehingga saya tidak mempunyai kecurigaan apa-apa. Pada Bulan Syawwal (November tahun lalu/2007), saya berada di Chicago-Amerika Serikat. Di sebuah restoran, saya ambil koran-koran, yang ternyata isinya banyak sekali iklan haji dan umrah. Mulai saat itu, saya sudah mulai curiga, kok di semua negara yang ada Umat Islamnya, ternyata koran-koran penuh dengan iklan haji dan umrah? Ini ada apanya? Jika hal ini terjadi di Indonesia saja, tentunya hanya sesuatu yang biasa-biasa saja. Ternyata, hampir di semua negara juga seperti itu, seperti ada yang menggerakkan.

Waktu itu, kami sudah mulai curiga akan fenomena ini. Menurut perkiraan saya, mungkin ada aktor intelektualnya di balik fenomena ini.

Mengapa orang dianjurkan untuk berbondong-bondong pergi haji, bukannya diajurkan untuk membangun Umat Islam. Padahal menurut suatu penelitian yang dilaporkan oleh Sekretaris Dewan Fatwa Republik Arab Syiria, bahwa setiap tahun (setiap musim haji), Umat Islam melemparkan dana untuk ibadah Haji Sunnah sebanyak 5 milyar Dolar Amerika (jika dikurs-kan sekarang yaitu kurang lebih 55 trilyun Rupiah). Ini belum termasuk yang umrah, khususnya umrah pada Bulan Ramadan (Rasulullah saja tidak pernah melakanakan umrah pada Bulan Ramadan).

Kamis, 16 September 2010

tugas 10 ibu

Kita semua sepakat bahwa semua agama memberikan kehormatan dan kebaktian kepada ibu. Tidak ada hal yang disepakati apapun agamanya melebihi kesepakatan mereka bahwa ibu harus dihormati. Salah satu ciri seseorang dinamai gentleman, adalah seseorang yang menghormati wanita, tentu terlebih lagi pada ibu. Kita juga sudah seringkali mendengar betapa Islam menempatkan kewajiban berbakti kepada ibu melebihi kewajiban berbakti terhadap ayah. Seorang sahabat bertanya kepada Nabi, siapa yang paling wajar untuk mendapatkan kebaktian saya, dijawab Nabi 3 kali berturut-turut dengan kata-kata “ibumu”, kemudian “ibumu”, lalu “ibumu” baru kemudian dijawab “bapakmu” setelah ditanya untuk keempat kalinya.

Kewajiban anak terhadap ibunya tidak dapat membalas kebaikan ibu terhadap anaknya. Satu orang bersedia gendong ibunya sepanjang hidupnya belum bisa membalas satu tetes air susu ibunya yang diminumnya waktu kecil. Lantas saya (pak Quraish) bertanya, apa sekarang seorang ibu mau memberikan air susunya
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2) ayat 223 : ”Ibu-ibu kandung menyusukan anaknya selama 2 tahun penuh bagi siapa yang hendak menyempurnakan penyusuan”. Ayat ini redaksinya tidak memerintahkan tapi berupa berita, tapi tujuan sebenarnya adalah perintah. Yang mana lebih keras tekanannya, perintah atau berita ?

Sebagai contoh ada sebuah perintah : “Hai anak, pergilah ke pasar”. Bisa jadi anaknya pergi, bisa pula tidak. Tapi jika dikatakan “Anakku pergi ke pasar”. Jika anaknya tidak pergi, maka ibunya itu telah berbohong. Maka penekanannya lebih kuat perintah yang diredaksikan seperti berita.
Sedemikian dalam perhatian agama tentang kewajiban orang tua terhadap anaknya sampai-sampai wanita yang dicerai sedang dia dalam keadaan hamil, suaminya tetap berkewajiban memberi nafkah dan kalau sang isteri menuntut bayar kepada suaminya untuk menyusu anaknya, maka suami wajib memenuhinya walaupun ibu itu dikritik. Bermusyawarahlah, dan jika kalian saling berkeras dan ibu menuntut lebih dari kemampuan suaminya, maka ibu itulah yang perlu dikecam sehingga sampai ada yang lain yang mau menyusukan.
Kesimpulan :
Ibu-ibu mempunyai hak dan kewajiban terhadap anaknya. Anakpun mempunyai hak dan kewajiban kepada ibunya. Bakti kepada ibu tidak berarti mencabut hak-hak pribadi anak. Bakti kepada orang tua adalah upaya sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuan anak.

Selasa, 14 September 2010

tugas 9 bohong

Di era globalisasi sekarang ini, kebohongan dan kepalsuan telah menjalar dan menjadi borok di segala lapisan masyarakat. Bahkan di Amerika berdasarkan sebuah survey terpercaya, didapatkan angka 91% dari warganya terbiasa berbohong. Sebagian umat Islampun ada yang kecanduan dengan sikap tercela ini. Tulisan di bawah ini, mudah-mudahan menguatkan kita untuk menghindari kebiasaan tercela tersebut.

Allah Ta’ala telah menjadikan umat Islam bersih dalam kepercayaan, segala perbuatan dan perkataannya. Kejujuran adalah barometer kebahagiaan suatu bangsa. Tiada kunci kebahagiaan dan ketentraman haqiqi melainkan bersikap jujur, baik jujur secara vertikal maupun horizontal.

Kejujuran merupakan nikmat Allah Ta’ala yang teragung setelah nikmat Islam, sekaligus penopang utama bagi berlang-sungnya kehidupan dan kejayaan Islam. Sedangkan sifat bohong merupakan ujian terbesar jika menimpa seseorang, karena kebohongan merupakan penyakit yang menggerogoti dan menghancurkan kejayaan Islam.

Dusta merupakan dosa dan aib besar, Allah Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (Al-Isra’: 36)
Dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya jujur itu menunjukkan kepada kebaikan, sedangkan kebaikan menuntun menuju Surga. Sungguh seseorang yang membiasakan jujur niscaya dicatat di sisi Allah sebagai orang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada kemungkaran, sedangkan kemungkaran menjerumuskan ke Neraka. Sungguh orang yang selalu berdusta akan dicatat sebagai pendusta”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim )

Ungkapan seseorang: “Telah saya katakan kepadamu seribu kali, masa belum paham juga.” Ungkapan di atas tidak menunjukkan jumlah bilangannya, tetapi untuk menguatkan maksud. Jika ia hanya mengatakannya sekali, maka ia telah berdusta. Tetapi jika ia mengatakannya berkali-kali walaupun belum sampai hitungan seribu kali, maka ia tidak berdosa.
Contoh lain, seseorang berkata kepada temannya: “Silakan dimakan,” lalu dijawab: “Terimakasih, saya sudah kenyang atau saya tidak bernafsu.”
Hal-hal semacam itu dilarang (haram) jika tidak mengandung tujuan yang benar.
Ahli wira’i (orang-orang yang senantiasa memelihara dirinya dari unsur haram) sangat membenci basa-basi semacam ini.
• Berdusta dalam memberitakan mimpi, padahal dosanya besar sekali. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya di antara kebohongan terbesar adalah seseorang yang mengaku (bernasab) kepada selain bapaknya, atau bercerita tentang mimpi yang tak pernah ia lihat, serta meriwayatkan atas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sesuatu yang tidak pernah beliau katakan.” (HR. Al Bukhari)
• Mengelabuhi anak kecil dengan memanggilnya untuk diberi sesuatu, padahal ia tidak memiliki apa-apa. Misalnya, seseorang berkata: “Nak kemari, bantu bapak ya, nanti bapak kasih duit,” tetapi kemudian ia tidak memberinya apa-apa.
• Menceritakan segala hal yang ia dengar.

“Cukuplah seseorang disebut pendusta, jika ia menceritakan segala hal yang ia dengar.” (HR. Muslim)
Padahal sangat mungkin terjadi kekeliruan dalam pemberitaannya, karena ia tidak mengecek terlebih dahulu, tapi biasanya ia berdalih: “Ini berdasarkan yang saya dengar.”
Bagaimana jika berita itu tentang tuduhan zina? Apa ia tetap menyebarluaskannya tanpa bukti yang nyata? Adakah di antara kita rela didakwa zina semacam ini?
• Berkata atau bercerita bohong yang lucu, agar massa pendengarnya tertawa.

“Neraka Wail (kehancuran) bagi orang yang berbicara kemudian berdusta supaya pendengarnya tertawa. Wail baginya, sungguh Wail sangat pantas baginya.” (HR. Bazzar)

Terapi Penyembuhan Penyakit Tercela Ini

Jika Anda ingin mengerti keburukan sifat dusta dari dirimu sendiri, maka perhatikan kebohongan orang lain, niscaya Anda membencinya, merendahkan dan mengecamnya. Setiap muslim wajib memperbaharui taubat dirinya dari segala dosa dan kesalahan. Demikian pula ia wajib mencari dan me-melihara berbagai macam sebab yang bisa membantunya dalam meninggalkan dan menjauhi sifat yang tidak terpuji ini.

Senin, 13 September 2010

tugas 8 Mengamalkan Ilmu bertambah Ilmu

Mengamalkan Ilmu bertambah Ilmu


Selayaknya seorang penuntut ilmu antusias untuk mengamalkan ilmu yang telah didapatkannya, sebagaimana antusias dia dalam mencari tambahan ilmu baru. Karena tujuan pokok menuntut ilmu adalah untuk diamalkan. Mengamalkan ilmu juga menjadi pertanda atas nikmat Allah berupa ilmu, yang dengannya Allah akan menambahkan ilmu sebagai ziyadah (tambahan) nikmat atasnya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu,” (QS. Ibrahim: 7)
Maka barangsiapa yang mensyukuri nikmat ilmu dengan amal, niscaya Allah akan menambah nikmat berupa ilmu. Sebagaimana yang dikatakan oleh Abdul Wahid bin Zaid, “Barangsiapa yang mengamalkan ilmunya, maka Allah akan membuka baginya ilmu yang belum diketahui sebelumnya.”

Jika kita merasa sulit untuk menjaga ilmu yang pernah kita ketahui, atau menambah ilmu yang kita ingini, sepantasnya kita banyak, adakah kita telah mengamalkan ilmu yang telah kita ketahui? Karena hakikat ilmumu itu seperti yang dikatakan oleh Ibrahim bin Adham, “Ilmu selalu memanggil/mengundang amal, jika dipenuhi panggilannya akan ikut, namun jika tidak ilmu akan pergi.”
bdullah bin Mubarak berkata, “Orang yang berakal adalah, seseorang yang tidak melulu berpikir untuk menambah ilmu, sebelum dia berusaha mengamalkan apa yang telah dia miliki, Maka dia menuntut ilmu untuk diamalkan, karena ilmu dicari untuk diamalkan.”

karna barang siapa yang pelit terhadap ilmunya untuk diamalkan maka sungguh orang tersebut adalah golongan orang yang merugi baik di dunia maupun di akhira