Jumat, 30 Oktober 2009

data

.Diskusikan validitas dan reliabilitas dalam riset kuantitatif dan kualitatif. Apa saja persamaan dan perbedaan diantara keduanya?
Penelitian merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mencari kebenaran. Untuk mendapatkan kebenaran tersebut diperlukan serangkaian langkah yang dapat menuntun peneliti untuk menghasilkan sesuatu yang tidak menyimpang dari keadaan yang sebenarnya dari sasaran penelitian. Serangkaian langkah tersebut antara lain meliputi langkah-langkah untuk mendapatkan validitas dan reliabilitas, baik untuk riset kualitatif maupun riset kuantitatif. Riset kuantitatif merupakan riset yang bersifat formal, objektif, proses sistematik dengan menggunakan data numerik untuk mendapatkan informasi. Pendekatan yang digunakan deduktif, logic dan ciri pengalaman manusia yang dapat di ukur. Sedangkan riset kualitatif melibatkan pengumpulan dan analisis data dalam bentuk naratif bersifat subjektif menggunakan prosedur dengan pengendalian yang ketat. Pendekatan yang digunakan cenderung ke aspek pengalaman manusia yang dinamik dengan pendekatan yang holistik.
Validitas adalah pengukuran dan pengamatan yang berarti prinsip keandalan instrumen didalam mengumpulkan data. Instrumen harus dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Misalnya kita akan mengukur berat badan, maka akan digunakan timbangan untuk berat badan, tidak mungkin kita gunakan timbangan dacin. Validitas lebih menekan pada alat pengukur atau pengamat baru setelah itu memikirkan valliditas cara pengukuran. Didalam menilai keakuratan suatu instrument, ada lima tipe validitas yang digunakan : content validity, face validity, predictive validity, concurrent validity, construct validity. Content validity adalah suatu keputusan tentang bagaimana instrument dengan baik mewakili karakteristik yang dikaji, contoh, untuk menyusun suatu kuisioner tentang sikap individu terhadap makan tetapi lupa menyanyakan sesuatu tentang pentingnya makanan dalam kehidupan mereka, maka ini akan keliru. Face validity merupakan validitas yang paling rendah signifikansinya karena hanya didasarkan pada penilaian terhadap format penampilan tes, apabila tes telah meyakinkan dan memberikan kesan mampu mengungkap apa yang hendak diukur maka dapat dikatakan bahwa validitas muka telah terpenuhi. Predictive validity adalah seberapa besar derajat tes berhasil memprediksi kesuksesan seseorang pada situasi yang akan datang. Validitas prediktif ditentukan dengan mengungkap hubungan antara skor tes dengan hasil tes atau ukuran lain kesuksesan dalam satu situasi sasaran. Concurrent validity menunjukkan seberapa besar derajat skor tes berkorelasi dengan skor yang diperoleh dari tes lain yang sudah mantap, bila disajikan pada saat yang sama, atau dibandingkan dengan kriteria lain yang valid yang diperoleh pada saat yang sama. Construct validity adalah seberapa besar derajat tes mengukur konstruk hipotesis yang dikehendaki untuk diukur. Konstruk adalah perangai yang tidak dapat diamati, yang menjelaskan perilaku. Menguji validitas konstruk mencakup uji hipotesis yang dideduksi dari suatu teori yang mengajukan konstruk tersebut. Reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta atau kenyataan hidup tadi diukur/ diamati berkali-kali dalam waktu yang berlainan. Reliabilitas dinyatakan dalam bentuk angka, biasanya sebagai koefisien. Koefisien tinggi berarti reliabilitas tinggi. Reliabilitas merupakan instrument untuk mengukur atribut penelitian, semakin tinggi tingkat reliabilitas sebuah instrument maka semakin rendah kemungkinan terjadi penyimpangan. Setiap alat pengukur seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan hasil pengukuran yang mantap atau konsisten. Pada alat pengukur fenomena fisik seperti berat dan panjang suatu benda, kemantapan atau konsistensi hasil pengukuran bukanlah sesuatu yang sulit diperoleh. Tetapi untuk pengukuran fenomena sosial, seperti sikap, pendapat, persepsi, kesadaran beragama, pengukuran yang mantap atau konsisten, agak sulit dicapai. Berhubung gejala sosial tidak semantap fenomena fisik, maka dalam pengukuran fenomena sosial selalu diperhitungkan unsur kesalahan pengukuran. Dalam penelitian sosial kesalahan pengukuran ini cukup besar. Karena itu untuk mengetahui hasil pengukuran yang sebenarnya, kesalahan pengukuran ini perlu diperhitungkan. Makin kecil kesalahan pengukuran, semakin reliabel alat pengukurnya. Semakin besar kesalahan pengukuran, semakin tidak reliabel alat pengukur tersebut. Teknik-teknik untuk menentukan reliabilitas ada tiga yaitu: teknik ulangan, teknik bentuk pararel dan teknik belah dua. Dalam tulisan ini akan dijelaskan satu teknik saja yaitu teknik belah dua. Teknik belah dua merupakan cara mengukur reliabilitas suatu alat ukur dengan membagi alat ukur menjadi dua kelompok.
Kedua pendekatan didalam riset kuantitatif dan kualitatif masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan. Riset kuantitatif merupakan riset yang bersifat formal, objektif, proses sistematik dengan menggunakan data numerik untuk mendapatkan informasi. Pendekatan kuantitaif memunculkan kesulitan dalam mengontrol variable-variabel lain yang dapat berpengaruh terhadap proses penelitian baik secara langsung ataupun tidak langsung. Untuk menciptakan validitas yang tinggi juga diperlukan kecermatan dalam proses penentuan sample, pengambilan data dan penentuan alat analisanya. Sedangkan riset kualitatif melibatkan pengumpulan dan analisis data dalam bentuk naratif bersifat subjektif. Kelemahan validitas riset kualitatif adalah tidak bisa mendapatkan validitas yang tinggi karena validitas tidak bisa di ukur dengan angka, banyak memakan waktu, reliabilitasnya dipertanyakan, prosedurnya tidak baku, desainnya tidak terstruktur dan tidak dapat dipakai untuk penelitian yang berskala besar dan pada akhirnya hasil penelitian dapat terkontaminasi dengan subyektifitas peneliti. Demikian juga pada pengukuran fenomena sosial selalu diperhitungkan unsur kesalahan pengukuran karena dalam penelitian sosial kesalahan pengukuran ini cukup besar. Sekalipun demikian penelitian kualitatif tetap saja dapat memperoleh validitas jika dilakukan dengan benar, hati-hati dan dengan menggunakan prosedur yang sistematis.

2.Bandingkan dan bedakan fase analisis dalam riset kuantitatif dan riset kualitatif?
Salah satu tahap didalam proses penelitian adalah analisa data. Analisis dan interpretasi data merupakan tahap yang harus dilewati oleh seorang penelitian. Adapun urutannya terletak pada tahap setelah tahap pengumpulan data. Dalam arti sempit, analisis data di artikan sebagai kegiatan pengolahan data, yang terdiri atas tabulasi dan rekapitulasi data.
Fase analisis dalam riset kuantitatif meliputi analisis deskriptif dan analisis inferensial (uji signifikansi). Analisis deskriptif adalah suatu prosedur pengolahan data dengan menggambarkan dan meringkas data secara ilmiah dalam bentuk table atau grafik. Data yang disajikan termasuk distribusi frekuensi, pengukuran tendensi sentral, variability dan bivariate deckriptif statistic. Distribusi frekuensi merupakan pengaturan yang sistematis dari data yang terkumpul mulai dari nilai yang terrendah sampai dengan nilai yang tertinggi, semua di hitung dengan persentase. Statistik ini juga bisa digunakan untuk mengecek kesalahan dalam program computer. Pengukuran tensensi sentral dimulai dari pusat penyebaran variable dengan menggunakan skala ratio atau interval yaitu mean, median, mode. Variability yaitu untuk mengetahui bagaimana penyebaran data yang diperoleh yang terdiri dari range dan standart deviasi, range didapat dengan cara mengurangi nilai tertinggi dikurangi nilai terendah dalam distribusi data. Standart deviasi menggambarkan nilai rata-rata dari mean. Sedangkan bivariate deckriptif statistic untuk menggambarkan hubungan antara dua variable. bivariate deckriptif statistic terdiri dari contingency table dan korelasi. Contingency table merupakan distribusi frekuensi yang bersifat dua dimensi dimana terdapat dua variable yang saling ditabulasi silang. Sedangkan korelasi hubungan antara dua variable yang didskripsikan melalui prosedur korelasi. Korelasi dapat bersipat positif dan negative. Cara yang umum digunakan dalam menghubungkan variable yaitu pearson dan spearmen. Pearson yaitu untuk menhubungkan dan mengukur variable yang bersifat interval atau ratio, sedangkan spearmen untuk menghubungkan dan mengukur variable ordinal. Analisis inferensial (uji signifikansi), uji yang digunakan harus sesuai dengan rancangan penelitian, pengujian statistic yang tidak sesuai akan menimbulkan penafsiran yang salah dan hasil yang tidak dapat digeneralisasi. Uji signifikansi dapat diaplikasikan tergantung dari tujuan analisis dan jenis data yang ada. Statistik inferensial dimaksudkan untuk membuat prediksi atau keputusan mengenai sebuah populasi berdasarkan informasi yang terdapat dalam sebuah sampel. Perhatian statistik inferensial adalah untuk mengetahui atau mengambil kesimpulan dari data melalui analisis : hubungan antar dua variable, perbedaan dalam suatu variabel antar anggota kelompok yang berbeda. Bagaimana beberapa variabel independen dapat menjelaskan terjadinya perubahan dalam suatu variabel independen. Statistik inferensial digolongkan kedalam statistik parametrik dan statistik nonparametrik. Statistik parametrik digunakan apabila memenuhi asumsi bahwa populasi asal sampel didistribusikan secara normal dan data yang dikumpulkan memakai skala interval atau ratio. Statistik parametrik terbagi lagi menjadi statistik univariat dan statistik multivariate. Statistik non parametrik dipakai tanpa mensyaratkan asumsi normalitas distribusi populasi dan bisa dipakai untuk data yang berskala nominal atau ordinal. Contoh statistik inferensial – non parametrik antara lain sign test, Mann-Whitnney U test, korelasi Spearman dan uji chi-square. Uji Chi-square adalah non para metric test yang digunakan untuk mengetahui perbedaan secara significant frekuensi observasi dan frekuensi secara teori, biasanya untuk menguji hipotesa. Contoh statistik inferensial univariat – parametrik antara lain adalah t-test, Z test, korelasi pearson dan ANOVA. Anova digunakan untuk menguji perbedaan antara mean dan dipergunakan sebagai suatu indikasi untuk menolak atau menerima Ho. Contoh statistik inferensial multivariat adalah discriminat analysis, factor analysis, cluster analysis, dan multidimensional scaling.
Fase analisis dalam riset Kualitatif , meliputi : comprehending , synthesizing, theorizing dan recontextualizing. Comprehending, yaitu peneliti berusaha untuk memahami apa yang didapat dari data yang terkumpul dan mempelajari apa yang sebenarnya sedang berjalan. Peneliti dapat mempersiapkan atau memberikan penjelasan yang menyeluruh tentang fenomena yang ada dalam penelitian. Synthesizing, yaitu peneliti menggabungkan dan menyaring data yang terkumpul secara keseluruhan. Peneliti juga berusaha untuk menentukan bagaimana type dan variasi tang ada. Theorizing, yaitu fase dimana peneliti mensortir data yang ada secara sistematis. Peneliti berusaha membuat penjelasan alternative dari fenomena yang ada dalam penelitian dan mempertahankan penjelasan yang ada mereka miliki dengan data yang ada. Recontextualizing adalah peneliti berusaha mengembangkan teori yang sudah ada dan berusaha mencoba untuk mengaplikasikannya ke setting atau keadaan yang lain. Riset kualitatif di analisa dengan cara Analisa domain, taksonomi, komponensial, tema cultural, tema Kultural dan Komparasi Konstan (Grounded Theory Research. Analisa domain, berguna untuk mencari dan memperoleh gambaran umum atau pengertian yang bersifat secara mneyeluruh. Hasil yang diharapkan ialah pengertian di tingkat permukaan mengenai domain tertentu atau kategori-kategori konseptual. Analisa Taksonomi, didasarkan pada focus terhadap salah satu domain (struktur internal domain) dan pengumpulan hal-hal / elemen yang sama. Analisa Komponensial: analisa komponensial menekankan pada kontras antar elemen dalam suatu domain; hanya karakteristik-karaktersitik yang berbeda saja yang dicari. Analisa Tema Kultural: cara melakukan analisa tema kultural ialah dengan mencari benang merah yang ada yang dikaitkan dengan nilai-nilai, orientasi nilai, nilai dasar / utama, premis, etos, pandangan dunia dan orientasi kognitif. Analisa berpangkal pada pandangan bahwa segala sesuatu yang kita teliti pada dasarnya merupakan suatu yang utuh (keseluruhan), tidak terpecah-pecah; oleh karena itu peneliti dalam menganalisa data sebaiknya menggunakan pendekatan yang utuh (holistic approach). Analisa Komparasi Konstan (Grounded Theory Research): cara melakukan analisa komparasi konstan adalah sebagai berikut: mengumpulkan data untuk menyusun / menemukan suatu teori baru, berkonsentrasi pada deskripsi yang rinci mengenai sifat atau cirri dari data yang dikumpulkan untuk menghasilkan pernyataan teoritis secara umum, membuat hipotesa jalinan hubungan antara gejala yang ada, kemudian mengujinya dengan bagian data yang lain dan didasarkan dari akumulasi data yang telah dihipotesakan, peneliti mengembangkan suatu teori baru. Sedangkan cara menganalisa data riset kualitatif yang lain : Analisa data etnografis, yaitu dimulai pada saat peneliti terjun kelapangan secara terus nenerus peneliti mencari pola tingkah laku dan pemikiran dari para responden, membandingkan satu pola dengan pola yang lain dan menganalisa pola secara simultan. Analisa data phenomenology, yaitu analisa yng memberikan gambaran arti dari setiap pengalaman melalui identifikasi tema-tema esensial dan mencari pola-pola yang umum terjadi. Analisa data grounded teori, yaitu analisa ynag menggunakan metode perbandingan secara konstan, membandingkan elemen yang ada dalam satu sumber data didalam wawancara, analisa terus berjalan sampai semua konten dari setiap sumber sudah dibandingkan antara yang satu dengan yang lainnya.
Perbedaan dalam fase analisis riset kuantitatif dan kualitatif adalah sifat data kuantitatif lebih mengutamakan perhitungan statistic, mengenai rata-rata, kecendrungan, arah, kemungkinan, ramalan, persentasi, indeks, perbandingan, jumlah dan lain-lain. Analisa dalam penelitian kuantitatif bersifat deduktif, uji empiris teori yang dipakai dan dilakukan setelah selesai pengumpulan data secara tuntas dengan menggunakan sarana statistik, seperti korelasi, uji t, analisa varian dan covarian, analisa faktor, regresi linear dan lain-lain. Sedangkan data-data kualitatif tidak bisa diukur dengan angka atau data yang tidak bisa diangkakan, hanya dinyatakan dalam bentuk kata, kalimat atau gambar. Analisa data sudah dapat dilakukan semenjak data diperoleh di lapangan. Data diusahakan jangan sampai terkena bermacam-macam pengaruh, antara lain pikiran peneliti sehingga menjadi terpolusi. Apabila terlalu lama baru dianalisa maka data menjadi kadaluwarsa. Analisa data dalam penelitian kualitatif bersifat induktif dan berkelanjutan yang tujuan akhirnya menghasilkan pengertian-pengertian, konsep-konsep dan pembangunan suatu teori baru.

3.Bandingkan dan bedakan kedua abstrak diatas?
Di dalam sebuah riset, ada yang namanya abstrak. Abstrak yaitu penjabaran singkat tentang penelitian yang ada di awal artikel atau jurnal. Abstrak terdiri dari 100 sampai dengan 200 kata, yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan riset dan bagaimana implikasinya terhadap praktik keperawatan. Abstrak terbagi menjadi dua bagian, yaitu abstrak tradisional dan abstrak yang diperbaharui. Abstrak yang tradisional berisi tentang beberapa paragrap kesimpulan yang singkat mengenai gambaran keseluruhan dari penelitian. Abstrak yang sudah diperbaharui dalam bentuk yang lebih panjang dan informative, dengan memiliki judul yang spesipik, terdiri dari latar belakang, tujuan, metode, hasil penelitian, kesimpulan dan kata kunci yang berdiri sendiri.
Abstrak 1 merupakan abstrak tradisional yang seharusnya berisi tentang beberapa paragraph kesimpulan yang singkat mengenai gambaran keseluruhan dari penelitian, walaupun pada abstrak 1 tidak menggambarkan secara keseluruhan dari pada penelitian, hanya kata kunci yang berdiri sendiri dan dijelaskan, sedangkan latar belakang, tujuan, metode, hasil dan kesimpulan tidak berdiri sendiri. Ada penjelasan tentang latar kelakang tetapi tidak jelas, peneliti mencantumkan hasil penelitian, tetapi tidak menjelaskan untuk apa penelitian/ tujuan tidak ada, kesimpulan di cantumkan tetapi tidak jelas, metode yang digunakan sudah dijelaskan. Secara umum isi abstrak 1 membingungkan dan tidak memberikan ringkasan utama dari laporan penelitian. Pada abstrak 2 merupakan abstrak yang sudah diperbaharui karena dalam bentuk yang lebih panjang dan lebih informative, dengan memiliki judul yang spesipik, terdiri dari latar belakang, tujuan, metode, hasil penelitian, kesimpulan dan kata kunci yang berdiri sendiri. Peneliti sudah menjelaskan tentang latar belakang, tujuan, metode, hasil penelitian, kesimpulan dan kata kunci. Tetapi, penjelasan pertama peneliti bukan tentang latar belakang, melainkan tentang tujuan penelitian. Walaupun demikian, di bandingkan dengan abstrak 1, abstrak 2 secara keseluruhan lebih jelas, padat dan dapat menyajikan ringkasan tentang hasil penelitian.
Jadi, abstrak adalah informasi singkat dan padat tentang ringkasan hasil penelitian. Perbedaan abstrak 1 dengan abstrak 2 adalah, abstak 1 merupakan abstrak tradisional dan isi keseluruhan membingungkan dan tidak memberikan ringkasan utama dari laporan penelitian, sedangkan abstrak 2 merupaskan abstrak yang sudah di perbaharui secara keseluruhan lebih jelas, padat dan dapat menyajikan ringkasan tentang hasil penelitian.


DAFTAR PUSTAKA


Dempsey P. A., & Dempsey A. D. (2002). Riset keperawata: Buku ajar dan latihan (4th ed.) (P. Wiyastuti, Trans.). Jakarta: EGC.

Nursalam, (2008). Konsep & penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan edisi 2. Jakarta : Salemba Medika

Nursalam & Pariani, S. (2000). Pendekatan praktis metodologi riset keperawatan. Jakarta : Sagung Seto

Polit, D. F.,& Beck, C.T.(2006). Essential of nursing research: Methods, Appraisal, and Utilization (6th ed.).Philadelphia: Lippincott
Diposkan oleh NAMS di 00:06 0 komentar Link ke posting ini
Rabu, 03 Desember 2008
RISET KEPERAWATAN
PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang
Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian pertama di Indonesia. Prosentase penderita penyakit kardiovaskuler di Indonesia pada tahun 1995 adalah 25,4% kemudian meningkat menjadi 26,4% pada tahun 2001 (Depkes, 2001). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan jumlah penduduk yang menderita penyakit kardiovaskuler. Pengobatan terhadap penyakit kardiovaskuler sudah berlangsung lama. Salah satu pengobatan tersebut adalah dengan PCI (Percutaneous Coronary Intervention).
PCI adalah intervensi non bedah untuk organ jantung yang mengalami kerusakan terutama pada pembuluh darah koroner untuk revaskularisasi baik pada pasien dengan angina stabil maupun angina tidak stabil yang tidak berespon terhadap pengobatan. Intervensi ini dilakukan dengan cara memasukkan balon kateter ke dalam pembuluh darah koroner melalui arteri femoralis sebagai daerah penusukan pertama kali (Jones, 2006). Tindakan PCI ini merupakan salah satu pengalaman fisik seseorang untuk meningkatkan fungsi jantung secara khusus. Pengalaman ini tentunya akan melibatkan pasien secara fisiologis dan psikologis. Pada area penusukan tersebut terjadi inkontinuitas jaringan kulit atau tereksposnya faktor jaringan (baik jaringan kulit dan pembuluh darah), hal ini termasuk faktor ekstrinsik. Dilain pihak pasien-pasien jantung tersebut mendapatkan terapi anti koagulan dimana efeknya akan memperpanjang faktor koagulasi darah hal ini termasuk faktor intrinsik. Maka pada post PCI diperlukan adanya sebuah periode waktu untuk memulihkan kerusakan jaringan pada area penusukan yang juga diperlambat dengan koagulasi yang memanjang (Albert, et al, 2006).
Siloam Hospitals Lippo Karawaci (SHLK) merupakan salah satu rumah sakit yang sedang mengembangkan diri di bidang cardiology. SHLK juga menjadi tempat rujukan pasien dari rumah sakit lain untuk dilakukan PCI. Jumlah kunjungan pasien yang dilakukan PCI di ruang Intensive Coronary Care Unit (ICCU) SHLK adalah rata-rata 10-12 pasien setiap bulan. Seluruh pasien tersebut setelah dilakukan prosedur PCI akan di observasi di ICCU. Observasi yang dilakukan dengan cara tirah baring total dengan kaki yang dilakukan penusukan harus lurus selama enam jam karena pemulihan lapisan jaringan pembuluh darah arteri yang rusak akibat penusukan membutuhkan waktu selama enam jam dan mencegah terjadinya perdarahan.

I. 2 Masalah
Salah satu bagian dari prosedur setelah PCI adalah tidak boleh melipat kaki tempat penusukan jarum selama enam jam untuk mencegah terjadinya perdarahan, selain itu pasien juga harus tirah baring total selama enam jam. Masalah yang dialami pasien selama enam jam tersebut adalah kejenuhan. Walaupun informasi tentang prosedur PCI sebelum dan sesudah tindakan sudah diberikan tetapi hal tersebut tidak menolong pasien untuk mengatasi kejenuhan selama enam jam tersebut. Dari masalah tersebut maka pertanyaan penelitian yang muncul adalah bagaimanakah hubungan terapeutik antara perawat dan pasien untuk menunjang pemberian intervensi keperawatan yang tepat dalam rentang waktu enam jam sehingga kejenuhan pasien dapat teratasi.

I. 3 Tujuan
Tujuan umum penelitian adalah adanya pernyataan dari pasien bahwa mereka tidak merasa jenuh selama enam jam tirah baring dengan kaki lurus setelah PCI. Tujuan khusus dari penelitian adalah untuk menemukan intervensi keperawatan yang tepat selama rentang waktu enam jam pada pasien setelah PCI, untuk membina hubungan terapeutik antara pasien dan perawat.

I. 4 Kerangka konsep
Kerangka konsep yang akan dipakai sebagai landasan masalah penelitian dan mendukung pelaksanaan penelitian adalah teori hubungan antar manusia dan teori tahap perkembangan.

I. 5. Pertanyaan riset
Pertanyaan riset yang akan dicari jawabannya adalah bagaimana pengalaman pasien selama waktu tunggu enam jam post PCI.

I. 6 Manfaat riset
1. Bagi rumah sakit
Untuk mengembangkan sarana bagi pasien sehingga meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan.
2. Bagi perawat
Sebagai masukan untuk dapat memberikan intervensi perawatan yang tepat bagi
pasien.
3. Bagi peneliti
Untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan dalam melakukan riset
keperawatan.
4. Bagi penelitian selanjutnya
Dapat dijadikan sebagai sumber informasi untuk penelitian selanjutnya.

Bab II
Tinjauan Pustaka

II. 1 Kerangka Teori
Pada penelitian ini kerangka teori yang akan digunakan adalah teori persepsi dalam hal ini adalah persepsi pasien, teori hubungan antar manusia yaitu hubungan antara pasien dan perawat, serta patofisiologi terkait dengan waktu tunggu selama enam jam setelah tindakan PCI.
Persepsi adalah proses timbal balik antara manusia dengan lingkungannya. Hal tersebut meliputi bagaimana manusia mengorganisasikan, menginterpretasikan dan mengubah data sensori dan memori menjadi sebuah informasi. Pengertian ini didasarkan pada teori Imogene M. King tentang konseptual sistem dan teori pencapaian tujuan dan proses timbal balik (McEwen, 2007). Jadi setelah dilakukan prosedur PCI pasien akan mengalami proses tersebut sehingga muncullah persepsi pasien tentang pengalaman yang diperoleh baik dari sensori pendengaran maupun penglihatan. Pengalaman yang diperoleh melalui sensori pendengaran misalnya suara perawat dan dokter, bunyi alarm monitor ECG, dan alat invasif lain yang digunakannya ataupun yang digunakan pasien lain di ruangan ICCU.
Hubungan antara manusia dengan manusia lainnya merupakan salah satu objek keperawatan, dimana hubungan ini dipaparkan lebih jauh oleh Travelbee (1969) sebagai hubungan antara pasien dan perawat yang bertolak ukur dari kesan pertama mereka saling bertemu dan adanya kemungkinan mengembangkannya menjadi sebuah kebutuhan akan adanya hubungan terapeutik (Tomey, 1994).

Fase simpati muncul pada saat perawat ingin mengurangi penderitaan pasien. Sedangkan empati adalah kemampuan untuk berbagi mengenai pengalaman seseorang dalam hal ini adalah pasien. Hasil dari proses empati ini adalah mampu memprediksikan prilaku pasien tersebut. Pada proses memunculkan identitas adalah fase dimana masing-masing perawat dan pasien saling mempersepsikan dirinya sebagai individu yang unik sehingga sebuah ikatan mulai terbentuk. Sedangkan pada fase pertemuan pertama adalah fase dimana perawat dan pasien saling mempersepsikan satu sama lainnya berdasarkan peran masing-masing.
Setelah pasien dilakukan tndakan PCI, pasien harus menjalani tirah baring selama 6 jam. Pada daerah penusukan tersebut terjadi kerusakan inkontinuitas jaringan kulit atau tereksposnya faktor jaringan (baik jaringan kulit dan pembuluh darah), hal ini termasuk faktor ekstrinsik. Pasien tersebut juga mendapatkan terapi anti koagulan dimana efeknya akan memperpanjang faktor koagulasi darah, hal ini termasuk faktor intrinsik. Maka pada post PCI diperlukan adanya sebuah periode waktu untuk memulihkan kerusakan jaringan pada area penusukan yang juga diperlambat dengan koagulasi yang memanjang untuk mencegah terjadinya perdarahan post prosedur PCI. (Albert, et al, 2006).
II. 2. Review literatur
II. 3. Kesimpulan


Bab III
Metodologi penelitian

III. 1. Desain penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah phenomenology dengan jenis deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan tentang fenomena yang terjadi pada partisipan yang mempunyai pengalaman menjalani waktu tunggu selama enam jam setelah PCI. Pengambilan data akan dilakukan selama 14 hari
III. 2. Pertimbangan etika
Penelitian ini akan melibatkan partisipan yang akan mengungkapkan pengalaman mereka selama waktu tunggu enam jam setelah PCI, dimana partisipan adalah pasien yang terdaftar di Siloam Hospitals Lippo Karawaci sehingga peneliti harus menjaga kerahasiaaan identitas partisipan. Sebelum melakukan wawancara, peneliti akan meminta persetujuan secara lesan dan tertulis kepada partisipan dan keluarga.
III. 3. Populasi dan sampel
Target populasi yang menjadi sasaran penelitian adalah pasien yang pernah menjalani prosedur PCI pada enam bulan terakhir di Siloam Hospitals Lippo Karawaci, usia 40-65 tahun ke atas, jenis kelamin laki-laki atau perempuan
III. 4. Instrumen
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengukuran melalui wawancara yang tidak terstruktur dengan jenis wawancara fokus interview. Dalam fokus interview peneliti akan memberikan pertanyaan untuk mendorong partisipan mengungkapkan perasaan dan emosinya secara terbuka tentang pengalaman selama waktu tunggu enam jam setelah tindakan PCI. Jadi pertanyaan yang diajukan tidak hanya sekedar menjawab pertanyaan tertutup dengan jawaban ya atau tidak.
III. 5. Pengumpulan data/ prosedur
Pengumpulan data adalah proses pendekatan kepada subyek dan proses pengumpulan karakteristik subyek yang diperlukan dalam suatu penelitian. Pengumpulan data melalui wawancara partisipan
III. 6. Rencana analisa data
Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data dari hasil wawancara dengan partisipan untuk menemukan tema atau kategori pengalaman yang dipandang dari perspektif partisipan. Wawancara akan dilakukan kepada partisipan secara terpisah antara satu dengan yang lainnya mengenai pengalaman selama waktu tunggu enam jam setelah PCI. Unsur-unsur yang terlibat dalam keberhasilan adalah partisipan kooperatif sehingga akan mengungkapkan pengalamannya tersebut kepada peneliti. Disini peneliti akan menggunakan penafsiran hasil dari wawancara sebagai sumber analisa data. Setiap jawaban akan diseleksi dan penggabungan jawaban partisipan akan menghasilkan pemahaman tentang perasaan partisipan selama waktu tunggu 6 jam post PCI.

III. 7. Keterbatasan.
Penelitian ini merupakan pertama kalinya dilakukan oleh peneliti sehingga kurang berpengalaman atau kurang keterampilan dalam mengumpulkan data sehingga berdampak terhadap data yang terkumpul yang akan mempengaruhi hasil analisa. Peneliti kurang melakukan interaksi kepada partisipan sehingga informasi yang diterima dari partisipan kurang akurat.
Keterbatasan pada disain yang digunakan adalah .............................keterbatasan metode penelitian kualitatif adalah...............................................
Diposkan oleh NAMS di 22:06 0 komentar Link ke posting ini
NURSING LEADERSHIP AND MANAGEMENT PROPOSAL PROYEK “ MEWAWANCARAI TOKOH DALAM BIDANG KEPERAWATAN “
1.LATAR BELAKANG
Perkembangan dunia pelayanan kesehatan secara global banyak mengalami perubahan yang berdampak pada dunia keperawatan. Perawatan sebagai suatu profesi terus melakukan upaya pengakuan dari profesi lain terkait dengan autonomi.
Autonomi merupakan bentuk kemandirian dalam mengambil inisiatif sesuai tanggung jawab dan tanggung gugat profesi. Dalam kaitanya dengan autonomi keperawatan di Indonesia juga terus mengalami perubahan, sejauh mana perubahan itu membawa dampak bagi dunia keperawatan di Indonesia belumlah diketahui secara pasti.
Oleh sebab itu kelompok kami akan mewawancarai tokoh dalam bidang pendidikan dan praktek keperawatan yang kompeten dalam bidangnya dan dapat memberikan gambaran tentang otonomi perawat di Indonesia.
Selain itu proposal proyek ini juga merupakan penugasan dari mata ajaran Leadership dan Managemen yang bertujuan untuk melatih kemampuan peserta didik dalam hal manajemen dan kepemimpinan.

2.TUJUAN
•Setelah menyelesaikan proyek ini mahasiswa mampu menerapkan leadership dan manajemen dalam waktu dua bulan
•Mahasiswa mengetahui aplikasi dari autonomi keperawatan di Indonesia
•Mahasiswa mengetahui teknik-teknik interview yang baik dan benar
•Mahasiswa mampu menganalisa data untuk menghasilkan sebuah produk berupa makalah

3.IDENTITAS TIM
Kelompok memilih ´Candle´ sebagai identitas tim, yang melambangkan kerelaan berkorban, mementingkan kepentingan pasien dariapada kepentingan pribadi.


4.STRUKTUR ORGANISASI TIM
Ketua : Sopian Hadi
Sekretaris : Martha L. Siagian
Bendara : Marsaulina Manjorang
Sie Dokumentasi : Siti Zaenab dan Eleonora Prangin-angin
Sie perlengkapan / Dana : Seluruh anggota

5.TOPIK PROYEK
Topik yang akan didiskusikan adalah otonomi keperawatan di Indonesia.

6.TOKOH KEPERAWATAN
Dr. Budiana Keliat, SKp. selaku tokoh keperawatan di bidang pendidikan dan Ns. Siti Khomariah, S. Kep selaku direktur keperawatan RS. Siloam Karawaci.


7. JENIS KEGIATAN DAN STRATEGI PELAKSANAAN


No.

Deskripsi
Strategi
Pelaksanaan
WAKTU
PIC
Januari Februari Maret
I II III IV I II III IV I II III IV
1.Meeting • Undangan meeting
•mengedarkan undangan
•menyusun agenda meeting Sopian
Martha
2. Menyusun proposal • Mengumpulkan bahan terkait topik
•mendiskusikan isi proposal
•menyusun proposal
•konsultasi proposal
3.Memilih tokoh keperawatan • Identifikasi tokoh keperawatan di Indonesia
•menentukan profil tokoh
•melakukan pendekatan dengan tokoh
•menentukan waktu interview
4.Persiapan • Menentukan budget
•menentukan sarana pendukung
•menentukan tempat, waktu wawancara
•menyusun materi interview
•menetukan bentuk ucapan terima kasih
5.Menentukan Anggaran • Menentukan budget
•Sumber dana
•Laporan keuangan
6.Pelaksanaan • Menetukan waktu
•menentukan akomodasi
•menentukan uniform
•menentukan dokumentasi
7.Laporan • mengumpulkan data
•mengolah data
•menganalisa data
•menyimpulkan data (laporan)
8.RENCANA ANGGARAN
No.Tanggal Deskripsi Debet Kredit Saldo
1.Iuran wajib anggota @Rp. 150.000
750.000
2.Donatur 1.500.000
3.Dokumentasi 300.000
4.Akomodasi 200.000
5.Konsumsi 600.000
6.Souvenir 1.000.000
7.Lain-lain 150.000 0

9.MATERI INTERVIEW
a.Mengawali interview kita hari ini, kami ingin ibu bercerita perjalanan karier ibu di dunia keperawatan? (pendidikan, organisasi, praktek keperawatan...)
b.Sehubungan dengan topik interview kita hari ini adalah otonomi keperawatan di Indonesia. Bagaimana menurut ibu otonomi perawatan di Indonesia saat ini?
c.Bagaimana hubungan antara tingkat pendidikan dengan otonomi keperawatan?
d.Sudah adakah upaya dari PPNI untuk memperjuangkan otonomi keperawatan ?
e.Bagaimana lingkup batasan kemandirian perawat saat ini?
maksud kami, adakah batasan dari PPNI dalam hal praktek keperawatan, yang
seharusnya dijalankan oleh perawat?
f.Menurut ibu apa yang harus kami lakukan untuk memperjuangkan otonomi keperawatan di Indonesia?
g.Menurut pendapat ibu, bagaimana perkembangan keperawatan di Indonesia saat ini (kaitannya dengan otonomi dalam menjalankan praktek keperawatan)
h.Adakah hubungan antara S.I.P dan S.I.K kaitannya dengan otonomi keperawatan?
i.Bagaimana keabsahan dari beberapa rekan perawat yang membuka praktek, layaknya seorang dokter? apakah itu dapat dikatakan sebagai bentuk otonomi?
j.Bagaimana saran ibu bagi perawat dimasa mendatang?


Mengetahui,
Dosen Pengajar Leadership & Management


D. Tjakraprawira, MA-NA


KELOMPOK CANDLE
MAHASISWA SCHOOL OF NURSING
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
Lippo Karawaci, Tangerang 15811
No. : 2/SoN/Candle/2008 Karawaci, 27-Februari-2008
Perihal : Surat Permohonan
Lampiran : 1 lembar

Yth.
DR. Budiana Keliat, SKp.
Staff Pengajar FIK-UI
Depok

Dengan hormat,
Sehubungan dengan mata kuliah Leadership dan Management pada semester III untuk Conversion Program School Of Nursing Universitas Pelita Harapan, dalam hal ini, mahasiswa diminta bergabung dalam suatu tim kerja yang terdiri atas lima orang mahasiwa. Dimana tim kerja yang telah terbentuk akan mengerjakan sebuah proyek dari beberapa tema yang berbeda namun telah ditentukan tema yang akan dipilih dan dikerjakan oleh masing-masing tim kerja tersebut. Adapun tema yang telah ditentukan untuk kelompok tim kerja kami, yang kami beri nama ‘Candle’ adalah : “Mewawancarai seorang tokoh masyarakat atau tokoh pemimpin dalam dunia keperawatan.” Untuk itu kami mohon kesediaan ibu untuk diwawancarai. Adapun hasil proyek tersebut akan disajikan dan dikumpulkan dalam bentuk suatu makalah akhir yang komprehensif.
Demikian kiranya surat permohonan ini kami sampaikan. Terima kasih atas kesediaan ibu untuk berpartisipasi dalam kegiatan kami tersebut.
Kiranya Tuhan Memberkati kita semua.

Hormat saya, Mengetahui,
Ketua Dosen Pengajar Leadership & Management


KELOMPOK CANDLE
MAHASISWA SCHOOL OF NURSING
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
Lippo Karawaci, Tangerang 15811
No. : 3/SoN/Candle/2008 Karawaci, 28-Februari-2008
Perihal : Surat Permohonan Maaf dan Pembatalan Wawancara
Lampiran : 1 lembar

Yth.
DR. Ratna Sitorus, SKp. M. App. Sc
Staff Pengajar FIK-UI
Salemba

Dengan hormat,
Sehubungan karena terjadi kesalahpahaman didalam kelompok kami, sehingga rencana yang awalnya akan mewawancarai Ibu menjadi batal. Melalui surat ini, kami datang untuk memohon maaf atas kesalahan yang telah kami perbuat. Setelah kami melakukan evaluasi, kekeliruan yang terjadi adalah adanya perbedaan persepsi terhadap waktu yang salah, namun kami mengakui hal tersebut murni kesalahan kelompok. Dari kejadian ini kami memetik pelajaran terkait materi Leadership & Management, dalam pengorganisasian, waktu dan konfirmasi ulang merupakan suatu komponen terpenting dan merupakan kunci kesuksesan dari seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan. Kami berharap kesalahan yang sama tidak akan terjadi lagi di kemudian hari. Besar harapan kami, kiranya Ibu masih berkenan bekerjasama dengan kami selaku mahasiswa School Of Nursing Universitas Pelita Harapan.
Demikian kiranya surat permohonan maaf dan pembatalan ini kami sampaikan, atas pengertian dan kebaikan ibu, kami mengucapkan banyak terima kasih.
Kiranya Tuhan Memberkati kita semua.

Hormat kami,
Ketua Sekretaris,


Sopian Hadi Martha Lowrani Siagian


7. JENIS KEGIATAN DAN STRATEGI PELAKSANAAN


No.

Deskripsi
Strategi
Pelaksanaan
WAKTU
PIC
Januari Februari Maret
I II III IV I II III IV I II III IV
1. Meeting • Undangan meeting
• mengedarkan undangan
• menyusun agenda meeting Sopian
Martha
2. Menyusun proposal • Mengumpulkan bahan terkait topik
• mendiskusikan isi proposal
• menyusun proposal
• konsultasi proposal
3. Memilih tokoh keperawatan • Identifikasi tokoh keperawatan di Indonesia
• menentukan profil tokoh
• melakukan pendekatan dengan tokoh
• menentukan waktu interview
4. Persiapan • Menentukan budget
• menentukan sarana pendukung
• menentukan tempat, waktu wawancara
• menyusun materi interview
• menetukan bentuk ucapan terima kasih
5 Menentukan Anggaran • Menentukan budget
• Sumber dana
• Laporan keuangan
6 Pelaksanaan • Menetukan waktu
• menentukan akomodasi
• menentukan uniform
• menentukan dokumentasi
7 Laporan • mengumpulkan data
• mengolah data
• menganalisa data
• menyimpulkan data (laporan)


MATERI INTERVIEW

a.Mengawali interview kita hari ini, kami ingin ibu bercerita perjalanan karier ibu di dunia keperawatan? (pendidikan, organisasi, praktek keperawatan...)
b.Sehubungan dengan topiK interview kita hari ini adalah otonomi keperawatan di Indonesia. Bagaimana menurut ibu otonomi perawatan di Indonesia saat ini?
c.Bagaimana hubungan antara tingkat pendidikan dengan otonomi keperawatan?
d.Sudah adakah upaya dari PPNI untuk memperjuangkan otonomi keperawatan ?
e.Bagaimana lingkup batasan kemandirian perawat saat ini?
maksud kami, adakah batasan dari PPNI dalam hal praktek keperawatan, yang seharusnya dijalankan oleh perawat?
f.Menurut ibu apa yang harus kami lakukan untuk memperjuangkan otonomi keperawatan di Indonesia?
g.Menurut pendapat ibu, bagaimana perkembangan keperawatan di Indonesia saat ini (kaitannya dengan otonomi dalam menjalankan praktek keperawatan)?
h.Adakah hubungan antara S.I.P dan S.I.K kaitannya dengan otonomi keperawatan?
i.Bagaimana keabsahan dari beberapa rekan perawat yang membuka praktek, layaknya seorang dokter? apakah itu dapat dikatakan sebagai bentuk otonomi?
j.Bagaimana saran ibu bagi perawat dimasa mendatang?


KELOMPOK CANDLE
MAHASISWA SCHOOL OF NURSING
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
Lippo Karawaci, Tangerang 15811
No. : 3/SoN/Candle/2008 Karawaci, 28-Februari-2008
Perihal : Surat Permohonan Maaf dan Pembatalan Wawancara
Lampiran : 1 lembar

Yth.
DR. Ratna Sitorus, SKp. M. App. Sc
Staff Pengajar FIK-UI
Salemba

Dengan hormat,
Sehubungan karena terjadi kesalahpahaman didalam kelompok kami, sehingga rencana yang awalnya akan mewawancarai Ibu menjadi batal. Melalui surat ini, kami datang untuk memohon maaf atas kesalahan yang telah kami perbuat. Setelah kami melakukan evaluasi, kekeliruan yang terjadi adalah adanya perbedaan persepsi terhadap waktu yang salah, namun kami mengakui hal tersebut murni kesalahan kelompok. Dari kejadian ini kami memetik pelajaran terkait materi Leadership & Management, dalam pengorganisasian, waktu dan konfirmasi ulang merupakan suatu komponen terpenting dan merupakan kunci kesuksesan dari seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan. Kami berharap kesalahan yang sama tidak akan terjadi lagi di kemudian hari. Besar harapan kami, kiranya Ibu masih berkenan bekerjasama dengan kami selaku mahasiswa School Of Nursing Universitas Pelita Harapan.
Demikian kiranya surat permohonan maaf dan pembatalan ini kami sampaikan, atas pengertian dan kebaikan ibu, kami mengucapkan banyak terima kasih.
Kiranya Tuhan Memberkati kita semua.

Hormat kami,
Ketua Sekretaris,


Sopian Hadi Martha Lowrani Siagian

KELOMPOK CANDLE
MAHASISWA SCHOOL OF NURSING
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
Lippo Karawaci, Tangerang 15811

No. : 2/SoN/Candle/2008 Karawaci, 27-Februari-2008
Perihal : Surat Permohonan
Lampiran : 1 lembar

Yth.
DR. Budiana Keliat, SKp.
Staff Pengajar FIK-UI
Depok

Dengan hormat,
Sehubungan dengan mata kuliah Leadership dan Management pada semester III untuk Conversion Program School Of Nursing Universitas Pelita Harapan, dalam hal ini, mahasiswa diminta bergabung dalam suatu tim kerja yang terdiri atas lima orang mahasiwa. Dimana tim kerja yang telah terbentuk akan mengerjakan sebuah proyek dari beberapa tema yang berbeda namun telah ditentukan tema yang akan dipilih dan dikerjakan oleh masing-masing tim kerja tersebut. Adapun tema yang telah ditentukan untuk kelompok tim kerja kami, yang kami beri nama ‘Candle’ adalah : “Mewawancarai seorang tokoh masyarakat atau tokoh pemimpin dalam dunia keperawatan.” Untuk itu kami mohon kesediaan ibu untuk diwawancarai. Adapun hasil proyek tersebut akan disajikan dan dikumpulkan dalam bentuk suatu makalah akhir yang komprehensif.
Demikian kiranya surat permohonan ini kami sampaikan. Terima kasih atas kesediaan ibu untuk berpartisipasi dalam kegiatan kami tersebut.
Kiranya Tuhan Memberkati kita semua.

Hormat saya, Mengetahui,
Ketua Dosen Pengajar Leadership & Management



Sopian Hadi D. Tjakraprawira,MA-NA



NURSING LEADERSHIP AND MANAGEMENT


LAPORAN KEGIATAN

“WAWANCARA TOKOH DALAM BIDANG KEPERAWATAN”


DISUSUN OLEH :

“CANDLE”

Tidak ada komentar: