Jumat, 19 Februari 2010

ANJING BOIKOT

Persetan dengan boikot

a-an akhirnya muak dengan semua sms berantai yang diterimanya.
Semua sms berantai yang menyatakan boikot produk tertentu.

a-an mulai menuliskan semua rasa muaknya pada sebuah buku tebal yang lusuh.

Gw tahu tentang boikot produk sejak kelas satu SMA.
Gw tahu gimana rasanya sekolah di SMA yang berjarak lima puluh meter dari PH.
Tapi setiap temen gw (yang juga tahu tentang boikot) ultah disana, gw selalu pura-pura ada keperluan mendadak.

Gw tahu gimana rasanya gak enak ati karna menolak ajakan temen gw (yang juga tahu tentang boikot), untuk makan di tempat yang emang di boikot.



Gw tahu gimana rasanya melihat teman2 gw tetap membeli produk boikot,

padahal mereka tahu tentang boikot,

padahal mereka lebih Islami dari gw (dari penampilannya lebih alim, keluaran pesantren, sementara gw paling banter cuma ikutan pesantren kilat yang diwajibkan oleh guru agama di SD/SMP/SMA),

padahal hapalan surat mereka lebih banyak dari gw (gw cuma hapal al-fatihah, an-nas, al-falaq, al-kafiruun, al-ikhlas, al-kautsar),

padahal solatnya lebih rajin dari gw (gw lebih sering males solat),

padahal mereka sering solat malem (gw sih cuma pernah),

padahal bacaan Qur'an mereka jauh lebih fasih dari gw (gw uda lama gak baca Qur'an, abisnya pegel, lagian hurufnya kalo ditulis sambung gitu gw gak apal, salah mulu bacanya, jadi kesel sendiri, mau ikut les baca Qur'an, gw malu ama guru ngajinya, masa uda gede baca Qur'an-nya kayak anak balita).

padahal mereka punya hobi demo, termasuk demo boikot produk (gw gak pernah ikut demonstrasi apapun seumur hidup gw).




Gw bisa maklum klo produk yang digunakan adalah perangkat komputer yang memang belum ada penggantinya.


Tapi ini....
Hhhhh....
Teh, kopi, sabun, dan tetek bengek lainnya yang memiliki banyak produk sejenis non-boikot.


Gw tahu gimana rasanya menyimak setiap keterangan di sebuah produk, untuk memastikan bahwa produk tersebut tidak diboikot, sebelum barang tersebut dibawa ke kasir.

Gw menikmati usaha (cuma sekedar usaha) pemboikotan yang uda gw lakukan selama 9 tahun ini, dalam diam.

Gw tahu gimana rasanya menutupi pemboikotan yang gw lakukan, supaya gw tetap punya teman dan gw tidak dianggap aneh (tentu aja gw aneh, karna orang yang paling alim aja nongkrong di PH, sedangkan gw malah ada urusan mendadak mulu).

Gw bangga dengan apa yang gw lakukan, walaupun segelintir orang yang akhirnya menyadari bahwa gw adalah seorang pemboikot, menganggap gw makhluk aneh selama 9 tahun ini.

Dan untuk selanjutnya pun, gw akan tetap menjadi seorang pemboikot produk.

Tapi saat ini gw uda sangat muak dengan semua sms ini, sms yang sekedar trend, slogan semata.

Gw pengen teriak di kuping loe semua!!!!


PERSETAN DENGAN BOIKOT!!!!!!!!


Karna ribut-ribut boikot tuh bukan cuma sekarang, dari dulu juga uda rame. Tapi tetap aja....

Cuma slogan doanks... Sekedar sebuah trend... Hanya tempelan semata....



NB: dikutip dari sebuah blog

Tidak ada komentar: