Minggu, 13 Juni 2010

komunikasi terapiutik 085741912223/087885011167

PRE-PLANNING
Untuk melengkapi tugas Komunikasi Keperawatan
Dosen Pengampu : Dona Yanuar, S.Kep, Ns.





Disusun Oleh :
Mukhamad Rif’an SK. 109.115

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDAL
Tahun Ajaran 2010/2011



KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya serta memberikan perlindungan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyusun pre-planning “KOMUNIKASI KEPERAWATAN “. Dimana pre-planning ini sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas KOMUNIKASI KEPERAWATAN.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa selama penyusunan pre-planning ini penulis banyak menemui kesulitan dikarenakan keterbatasan yang ada dan keterbatasan penulis sendiri. Dengan adanya kendala dan keterbatasan yang dimiliki penulis maka penulis berusaha semaksimal mungkin untuk menyusun pre-planning dengan sebaik-baiknya.
Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada :
• Bapak Dona Yanuar, S.kep. Ns selaku dosen yang senantiasa memberikan bimbingan.
• Seluruh tim pengajar Ilmu Komunikasi Keperawatan 1.
• Teman-teman semester II C.

Atas segala bantuannya baik moral maupun tenaga, serta pikirannya. Sebagai penulis menyadari bahwa penulisan pre-planning ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi perbaikan yang lebih baik dimasa yang akan datang.
Akhirnya semoga pre-planning ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca dan pendengar pada umumnya, Amin.

Kendal, Juni 2010






I. Tema : Komunikasi
II. Sub tema : Komunikasi Terapeutik terhadap klien
III. Latar belakang :

Komunikasi dalam bidang keperawatan proses untuk menciptakan hubungan antara perawat dengan pasien dan tenaga kesehatan lainnya. Untuk mengenal kebutuhan pasien dan menentukan rencana tindakan serta kerjasama dalam memenuhi kebutuhan tersebut dalam memberikan asuhan keperawatan komunikasi terapeutik memegang peranan penting untuk membantu pasien dalam memecahkan masalah. Komunikasi tidak dapat dipisahkan dari tingkahlaku seseorang yang melibatkan aktifitas fisik, mental, disamping itu juga dipengaruhi latar belakang social, pengalaman, usia, pendidikan dan tujuan yang ingin dicapai.
Proses komunikasi yang baik dapat memberikan pengertian tingkah laku pasien dan membantu pasien untuk dalam rangka mengatasi persoalan yang dihadapi pada tahap perawatan. Sedangkan pada tahap preventif kegunaannya adalah mencegah adanya tindakan yang negatife terhadap pertahanan diri pasien.


IV. Tujuan
a) Tujuan umum
Berdasarkan hal diatas maka dilaksanakan praktek penerapan komunikasi terapeutik agar mahasiswa mampu memahami konsep dasar dan prinsip-prinsip komunikasi terapeutik.
b) Tujuan khusus
- Mahasiswa mampu memahami teknik-teknik komunikasi terapeutik.
- Mahasiswa mampu mengaplikasikan teknik-teknik terapeutik.
- Mahasiswa mampu mengetahui fase-fase dalam komunikasi terapeutik.
- Mahasiswa mampu mengaplikasikan fase-fase dalam komunikasi terapeutik.
- Mahasiswa mampu mengidentifikasikan hambatan-hambatan komunikasi terapeutik
- Mahasiswa mampu mengatasi hambatan-hambatan komunikasi terapeutik.
- Mahasiswa mampu membantu klien memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran.

V. Sasaran : Klien di bangsal RSUD dr. H. Soewondo Kendal
VI. Strategi pelaksanaan :
A. Strategi pelaksanaan
- Tempat : Bangsal di RSUD dr. H. Soewondo Kendal
- Hari/tgl : Selasa,15 juni 2010 jam 08.15 WIB
No Tahap Kegiatan Teknik
1





2













3 Pembukaan
5 menit




Intervensi
15 menit












Penutup
3 menit Orientasi
- Mengucapkan salam
- Kontrak waktu
- Menjelaskan tujuan pertemuan

Kerja
- Menanyakan tentang alasan klien datang ke poli
- Menanyakan keluhan yang dirasakan klien
- Menjelaskan tentang cara-cara klien dalam menghadapi masalah klien






Terminasi
- Evaluasi
- Kontrak waktu pada pertemuan berikutnya(bila perlu)
- Penutup
- Tersenyum pada klien
- Berjabat tangan kepada klien
- Berkenalan

- Mendengarkan
- Penerimaan
- Klarifikasi
- Memfokuskan
- Diam/tenang
- Meringkas
- Memberi penghargaan
- Ajukan pertanyaan terbuka
- Hadirkan realitas
- Berikan sentuhan
- Motivasi


- Menanyakan kepada klien tentang perasaannya setelah interview
- Membuat kontrak selanjutnya bila diperlukan
- Mengucapkan terima kasih.

VII. Setting tempat : mahasiswa berhadapan dengan klien
Keterangan : Mahasiswa
: Jarak mahasiswa kepada klien
: Klien

VIII. Metode
Tanya jawab (interview)

IX. Evaluasi

Menanyakan perasaan klien setelah di lakukan interview kepada klien. Membuat kontrak berikutnya, bila memperlukan kontrak untuk pertemuan berikutnya dengan menyampaikan kepada klien tentang kegiatan berikutnya dan kontrak untuk pendidikan kesehatan.

X. Landasan teori
Komunikasi Terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien, tehnik komunikasi terapeutik merupakan cara untuk membina hubungan yang terapeutik dimana terjadi penyampaian informasi dan pertukaran perasaan dan pikiran dengan maksud untuk mempengaruhi orang lain.
Jenis-jenis Komunikasi Terapeutik.
 Komunikasi Verbal
 Komunikasi Non Veerbal
Prinsip – prinsip komunikasi Terapeutik
 Berfokus pada klien
 Hubungan saling percaya
 Dilandasi hubungan dan tujuan terapeutik
 Dilandasi perilaku professional
 Berdasarkan teori
Fase –fase Komunikasi Terapeutik
o Pre interaksi
Masa persiapan sebelum mengevaluasi dan berkomunikasi dengan baik.
o Orientasi
Fase ini diperlukan pada awal setiap pertemuan kedua, tujuannya untuk pemgenalan dan persetujuan komunikasi.
o Fase kerja
Merupakan inti hubungan perawat – klien yang terkait erat dengan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai
o Fase Terminasi
Merupakan akhir dari setiap pertemuan perawat dengan pasien.
Teknik komunikasi Terapeutik
 Mendengarkan
 Penerimaan
 Klarifikasi
 Memfokuskan
 Observasi
 Menawarkan informasi
 Diam / Tenang
 Asertif
 Meringkasi
 Memberikan pengarahan
 Ajukan pengarahan terbuka
 Hadirkan realitas / kenyataan
 Perhatikan jarak perawat dengan klien
 Berikan sentuhan dan senyuman
 Motivasi untuk mendukung implementasi
 Konrtak
KESIMPULAN
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Komunikasi terapeutik mempunyai ciri-ciri yaitu simpati,empati,caring dan peduli.Responsif dan tindakan merupakan dari dimensi komunikasi terapeutik.


XI. Daftar pustaka
www.scribd.com/doc/28885890/komunikasi-terapeutik

Rabu, 09 Juni 2010

Selasa, 01 Juni 2010

bisnis JARINGAN

Majlis Ulama Indonesia (MUI) dan Himpunan Da,i Indonesia (HDI) Cabang Kota Bukittinggi, melarang bisnis jaringan pulsa atau Network Marketing yang saat ini santer disebut Duta Business School (DBS).

DBS yang dikelola manajemen PT. Duta Future International (PT.DFI) itu dinilai tidak sesuai dengan konsep usaha syariat Agam Islam.

"Mulai saat ini bisnis jaringan pulsa atau DBS tersebut harus dihentikan, karena tidak sesuai dengan konsep usaha syariat Agama Islam. Sebab selain tidak adil, menguntungkan jaringan posisi tertinggi, perusahaan, dan akad (perjanjian) investasi yang ditanam member sebesar Rp 200 ribu akan hilang begitu saja," tegas H. Gusrizal, Ketua Bidang Fatwa MUI Sumatera Barat dalam diskusi bersama pimpinan DBS Cabang Kota Bukittinggi di Mesjid Agung Tengah Sawah Kota setempat Senin (1/6).

Gusrizal, yang akrab disapa Buya itu menyatakan, DBS belum bisa diketegorikan halal walaupun pengelolaan-nya merujuk kepada fatwa MUI Bandung.

Maksud dari Fatwa MUI Bandung, kata Buya, hanya tertuju kepada bisnis Network Marketing dan MLM secara global dimana intinya adalah usaha berbentuk penjualan barang. Sedangkan khusus untuk bisnis DBS dalam pengertian umum adalah money game atau permainan uang.

"Belum ada fatwa dikeluarkan MUI tingkat pusat maupun daerah untuk bisnis DBS ini. Fatwa MUI Bandung tertuju kepada bisnis MLM secara global, sementara DBS adalah permainan uang dan menguntungkan sepihak. Soal pembagian laba yang diperoleh tidak merata antara posisi jaringan diatas dengan posisi paling dibawah termasuk keuntungan besar yang diraup perusahaan dari uang pendaftaran member," sebutnya.

Jadi, lanjut Buya, kesimpulan dari diskusi atau pembahasan soal DBS, untuk sementara belum difatwakan haram, tetapi telah mendekati haram. Dalam Syariat Agama Islam disebut Subhat.

"Pembahasan kategori bisnis pulsa DBS ini akan terus diproses sampai ketingkat provinsi dan pusat. Untuk sementara kategori usahanya disebut Subhat yang artinya telah hampir mencapai kepada tingkatan usaha haram. Guna kemaslahatan umat, walaupun fatwa belum dikeluarkan, sistem usaha ini harus dihentikan," tandasnya.

Sementara Erwin, pimpinan cabang DBS Kota Bukittinggi, mendengar keterangan dari Buya tidak bisa berkomentar lebih banyak. Ia hanya menyarankan agar para ulama yang membahas permasalahan bisnis DBS segera mempertanyakan langsung kepada pimpinan perusahaan.

"Jika di Bukittinggi memang saya pimpinan-nya, tapi untuk melanjutkan atau menghentikan bisis DBS, tergantung kepada pimpinan perusahaan. Alangkah baik, para ulama yang terhormat ini mempertanyakan langsung kepada pimpinan perusahaan kami yang ada di Pulau Jawa sana,"ucapnya.

sumber : padangmedia

Jumat, 19 Februari 2010

ANJING BOIKOT

Persetan dengan boikot

a-an akhirnya muak dengan semua sms berantai yang diterimanya.
Semua sms berantai yang menyatakan boikot produk tertentu.

a-an mulai menuliskan semua rasa muaknya pada sebuah buku tebal yang lusuh.

Gw tahu tentang boikot produk sejak kelas satu SMA.
Gw tahu gimana rasanya sekolah di SMA yang berjarak lima puluh meter dari PH.
Tapi setiap temen gw (yang juga tahu tentang boikot) ultah disana, gw selalu pura-pura ada keperluan mendadak.

Gw tahu gimana rasanya gak enak ati karna menolak ajakan temen gw (yang juga tahu tentang boikot), untuk makan di tempat yang emang di boikot.



Gw tahu gimana rasanya melihat teman2 gw tetap membeli produk boikot,

padahal mereka tahu tentang boikot,

padahal mereka lebih Islami dari gw (dari penampilannya lebih alim, keluaran pesantren, sementara gw paling banter cuma ikutan pesantren kilat yang diwajibkan oleh guru agama di SD/SMP/SMA),

padahal hapalan surat mereka lebih banyak dari gw (gw cuma hapal al-fatihah, an-nas, al-falaq, al-kafiruun, al-ikhlas, al-kautsar),

padahal solatnya lebih rajin dari gw (gw lebih sering males solat),

padahal mereka sering solat malem (gw sih cuma pernah),

padahal bacaan Qur'an mereka jauh lebih fasih dari gw (gw uda lama gak baca Qur'an, abisnya pegel, lagian hurufnya kalo ditulis sambung gitu gw gak apal, salah mulu bacanya, jadi kesel sendiri, mau ikut les baca Qur'an, gw malu ama guru ngajinya, masa uda gede baca Qur'an-nya kayak anak balita).

padahal mereka punya hobi demo, termasuk demo boikot produk (gw gak pernah ikut demonstrasi apapun seumur hidup gw).




Gw bisa maklum klo produk yang digunakan adalah perangkat komputer yang memang belum ada penggantinya.


Tapi ini....
Hhhhh....
Teh, kopi, sabun, dan tetek bengek lainnya yang memiliki banyak produk sejenis non-boikot.


Gw tahu gimana rasanya menyimak setiap keterangan di sebuah produk, untuk memastikan bahwa produk tersebut tidak diboikot, sebelum barang tersebut dibawa ke kasir.

Gw menikmati usaha (cuma sekedar usaha) pemboikotan yang uda gw lakukan selama 9 tahun ini, dalam diam.

Gw tahu gimana rasanya menutupi pemboikotan yang gw lakukan, supaya gw tetap punya teman dan gw tidak dianggap aneh (tentu aja gw aneh, karna orang yang paling alim aja nongkrong di PH, sedangkan gw malah ada urusan mendadak mulu).

Gw bangga dengan apa yang gw lakukan, walaupun segelintir orang yang akhirnya menyadari bahwa gw adalah seorang pemboikot, menganggap gw makhluk aneh selama 9 tahun ini.

Dan untuk selanjutnya pun, gw akan tetap menjadi seorang pemboikot produk.

Tapi saat ini gw uda sangat muak dengan semua sms ini, sms yang sekedar trend, slogan semata.

Gw pengen teriak di kuping loe semua!!!!


PERSETAN DENGAN BOIKOT!!!!!!!!


Karna ribut-ribut boikot tuh bukan cuma sekarang, dari dulu juga uda rame. Tapi tetap aja....

Cuma slogan doanks... Sekedar sebuah trend... Hanya tempelan semata....



NB: dikutip dari sebuah blog

aku gelisah

aku glisah teman banyak yang hutang tapi tidak mau bayar
apa yang harus aku lakukan? aku tadak enak jaika me nagih



pagi riang dalam cinta tak kepalang mata sipit cemerlang melompat lompat girang wajah pias hilang apalagi desah meriang pagi cerah wajah oval sumringah enyah gelisah apalagi resah simpan saja gundah gundah secangkir teh panas manis penganan enak teriread more





Saat aku gelisah, kalau komputerku sakit, dia tak bisa hidup layaknya dulu, dia hidup tak wajar sekarang, karena dia sering kuajak bermain, sampai fajar tiba. Liburan pun selesa





NB: dikutib dari sbuah blog

Sabtu, 14 November 2009

cord

* Find Chord Gitar and Lyrics by Artist or Band
* A
* B
* C
* D
* E
* F
* G
* H
* I
* J
* K
* L
* M
* N
* O
* P
* Q
* R
* S
* T
* U
* V
* W
* X
* Y
* Z
* ...

Second Civil – Aku, Kau, Dan Kenanganku
May 9th, 2009
by evacantika.

Intro: Am 2x F G F E
Am F Em 2x

Em C
Saat kau membuka pintu hatimu
G B
Mungkin aku telah jauh
Em C
Meninggalkan dirimu dan kenanganku
G B
Rasa kecewaku padamu

Em
Memang kau yang terindah
C
Yang pernah tercipta
G B
Namun bukannya kau harus
Em C
Sia-saikan aku dengan segala tingkahmu
G B
Rasa kecewaku padamu

Dm G C
Biarkanlah aku mengembara jauh
Dm E Am A
Menghapus lupa kecewa karna cintamu
Dm G C
Jangan kau sesali kenyataan ini
Dm E F
Karna ku bahagia lepas dari jeratmu
E F E
Ooooo.. dari jeratmu oooooo…

interlude: Dm E F C G Dm E A
Bookmark and Share






cord2

Jumat, 30 Oktober 2009

tentang PPNI

KEPERAWATAN DAN PRAKTIK KEPERAWATAN

Artikel
PELAYANAN PROFESIONALISME KEPERAWATAN
YANG DIDUKUNG OLEH ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI


Perkembangan keperawatan sebagai pelayanan profesional didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperoleh dari pendidikan dan pelatihan yang terarah dan terencana.

Di Indonesia, keperawatan telah mencapai kemajuan yang sangat bermakna bahkan merupakan suatu lompatan yang jauh kedepan. Hal ini bermula dari dicapainya kesepakatan bersama pada Lokakarya Nasional Keperawatan pada bulan Januari 1983 yang menerima keperawatan sebagai pelayanan profesional (profesional service) dan pendidikan keperawatan sebagai pendidikan profesi (professional education).

Tenaga keperawatan yang merupakan jumlah tenaga kesehatan terbesar seyogyanya dapat memberikan kontribusi essensial dalam keberhasilan pembangunan kesehatan. Untuk itu tenaga keperawatan dituntut untuk dapat meningkatkan kemampuan profesionalnya agar mampu berperan aktif dalam pembangunan kesehatan khususnya dalam pelayanan keperawatan profesional.

Pengembangan pelayanan keperawatan profesional tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan profesional keperawatan. Pendidikan keperawatan bukan lagi merupakan pendidikan vokasional/ kejuruan akan tetapi bertujuan untuk menghasilkan tenaga keperawatan yang menguasai ilmu keperawatan yang siap dan mempu melaksanakan pelayanan / asuhan keperawatan profesional kepada masyarakan. Jenjang pendidikan keperawatan bahkan telah mencapai tingkat Doktoral.


Keyakinan inilah yang merupakan faktor penggerak perkembangan pendidikan keperawatan di Indonesia pada jenjang pendidikan tinggi, yang sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1962 yaitu dengan dibukanya Akademi Keperawatan yang pertama di Jakarta. Proses ini berkembang terus sejalan dengan hakikat profesionalisme keperawatan.

Dalam Lokakarya Keperawatan tahun 1983, telah dirumuskan dan disusun dasar-dasar pengembangan Pendidikan Tinggi Keperawatan. Sebagai realisasinya disusun kurikulum program pendidikan D-III Keperawatan, dan dilanjutkan dengan penyusunan kurikulum pendidikan Sarjana (S1) Keperawatan.

Pendidikan tinggi keperawatan diharapkan menghasilkan tenaga keperawatan profesional yang mampu mengadakan pembaruan dan perbaikan mutu pelayanan / asuhan keperawatan, serta penataan perkembangan kehidupan profesi keperawatan.

Pendidikan tinggi keperawatan diharapkan menghasilkan tenaga keperawatan professional yang mampu mengadakan pembaharuan dan perbaikan mutu pelayanan/asuhan keperawatan, serta penataan perkembangan kehidupan profesi keperawatan.

Keperawatan sebagai suatu profesi, dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab pengembanggannya harus mampu mandiri. Untuk itu memerlukan suatu wadah yang mempunyai fungsi utama untuk menetapkan, mengatur serta mengendalikan berbagai hal yang berkaitan dengan profesi seperti pengaturan hak dan batas kewenangan, standar praktek, standar pendidikan, legislasi, kode etik profesi dan peraturan lain yang berkaitan dengan profesi keperawatan.

Diperkirakan bahwa dimasa datang tuntutan kebutuhann pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan akan terus meningkat baik dalam aspek mutu maupun keterjangkauan serta cakupan pelayanan. Hal ini disebabkan meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan yang diakibatkan meningkatnya kesadaran masyarakat secara umum, dan peningkatan daya emban ekonomi masyarakat serta meningkatnya komplesitas masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat. Masyarakat semakin sadar akan hukum sehingga mendorong adanya tuntutan tersedianya pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan dengan mutu yang dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian keperawatan perlu terus mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan perubahan yang terjadi diberbagai bidang lainnya.

Perkembangan keperawatan bukan saja karena adanya pergeseran masalah kesehatan di masyarakat, akan tetapi juga adanya tekanan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan serta perkembangan profesi keperawatan dalam menghadapi era globalisasi.

Dalam memnghadapi tuntutan kebutuhan dimasa datang maka langkah konkrit yang harus dilakukan antara lain adalah : penataan standar praktek dan standar pelayanan/asuhan keperawatan sebagai landasan pengendalian mutu pelayanan keperawatan secara professional, penataan sistem pemberdayagunaan tenaga keperawatan sesuai dengan kepakarannya, pengelolaan sistem pendidikan keperawatan yang mampu menghasilkan keperawatan professional serta penataan sistem legilasi keperawatan untuk mengatur hak dan batas kewenangan, kewajiban, tanggung jawab tenaga keperawatan dalam melakukan praktek keperawatan.


Penyusun :
Tien Gartinah, MN
DR. Ratna Sitorus, M.App.Sc
Dewi Irawati, MA, PhD.