Jumat, 12 Desember 2008

BOIKOT

BOIKOT

Boikot Purnawirawan Bukti Ada Kasus HAM

Sejumlah mantan Perwira menghadiri acara Purnawirawan TNI dan Polri Peduli Nasib Bangsa di Balai Sudirman Jakarta, Kamis (24/4).
(iPhA/Wirasatria)

INILAH.COM, Jakarta - Purnawirawan TNI/Polri melakukan aksi boikot atas pemanggilan Komnas HAM. Aksi tersebut dinilai sebagai bukti adanya kasus pelanggaran HAM di era Orde Baru.

"Itu gambaran dari sikap perlawanan terhadap upaya pengungkapan pelanggaran HAM di masa lalu," ujar Managing Director Imparsial Rusdi Marpaung di Jakarta, Kamis (24/4).

Aksi boikot yang dilakukan pensiunan TNI/Polri ini merupakan rekomendasi dari apel siaga purnawirawan yang digelar di Jakarta, Kamis ini. Tampak hadir antara lain Try Sutrisno, Wismoyo Arismunandar, Sutiyoso, Luhut Panjaitan, Kiki Syahnarki, dan Kepala BIN Syamsir Siregar.

Sikap boikot ini, nilai Imparsial, justru akan merugikan citra Indonesia di mata internasional. Sebab, selama ini Indonesia melekat citra negara yang paling maju dalam bidang HAM. "Ini akan menimbulkan reaksi keras dari masyarakat internasional," cetus Rusdi.

MARJINAL


BOIKOT

BOIKOT
Boikot adalah tindakan untuk tidak menggunakan, membeli, atau berurusan dengan seseorang atau suatu organisasi sebagai wujud protes atau sebagai suatu bentuk pemaksaan. Kata ini berasal dari serapan bahasa Inggris boycott yang mulai digunakan sejak "Perang Tanah" di Irlandia pada sekitar 1880 dan berasal dari nama Charles Boycott, seorang agen lahan (estate agent) untuk tuan tanah Earl Erne.

BOIKOT MUSIK MALASIA

Rupanya Malaysia tidak pernah puas mengambil hak Indonesia. Rasa rendah diri terhadap musisi Indonesia yang jenius dengan lagu-lagunya itu diwujudkan dengan pembatasan peredarannya. Persatuan Karyawan Malaysia (Karyawan) memberikan kuota yang mereka inginkan 90:10 untuk lagu-lagu Malaysia berbanding lagu Indonesia. Tetapi anehnya, Malaysiakini mengatakan :

Kuota 90:10 untuk lagu Melayu berbanding lagu Indonesia di stesen radio swasta akan menjadikan “artis manja dan tidak produktif”, kata kumpulan pemuzik terkenal Meet Uncle Hussain.

Lebih baik serahkan saja kepada rakyat Malaysia untuk memilih lagu kesayangannya. Biarkan ada persaingan yang sehat. Secara jantan diadu saja musik Indonesia dengan musik melayu. Atau bagaimana kalau Malaysia mengadakan referendum untuk menentukan, setuju atau tidak pembatasan lagu-lagu Indonesia?. Aku yakin, Tidak!.

Bagaimana mau membatasi atau memboikot?.

Abu Bakar dari grup nasyid Raihan mengatakan protes sekelompok musisi Malaysia itu tidak pada tempatnya. Sebab musisi Malaysia masih menjadikan musik Indonesia sebagai referensi. Referensinya dari lagu Dewa, Gigi. Band-band baru pun nuansanya sudah seperti Indonesia punya band. Jadi mereka suka, bagaimana mau diboikot? Ini sebenarnya tidak pantas disuarakan oleh artis dari Malaysia.

Bagaimana dahsyatnya lagu Indonesia melibas lagu-lagu Malaysia, Amy Search menggambarkan jika jam 10 malam ke atas Malaysia sudah seperti Jakarta karena semua radio menyiarkan lagu-lagu Indonesia hingga dinihari.



boikot

Upaya menggalang sikap anti Israel di kalangan akademisi terus berlanjut. Komunitas warga Palestina di London, Inggris hari Minggu (5/12) menggelar konferensi bertema 'Strategi Melawan Kebijakan Diskriminatif Israel' di jurusan studi Kawasan Timur dan Afrika, Universitas London.

----------

Upaya menggalang sikap anti Israel di kalangan akademisi terus berlanjut. Komunitas warga Palestina di London, Inggris hari Minggu (5/12) menggelar konferensi bertema 'Strategi Melawan Kebijakan Diskriminatif Israel' di jurusan studi Kawasan Timur dan Afrika, Universitas London.

Konferensi itu menghasilkan sebuah manifesto yang isinya menyerukan agar kalangan akademisi memutus hubungan dengan Israel dengan cara menolak bekerjasama dengan institusi pendidikan Israel, tidak memberikan referensi bagi kegiatan penulisan skripsi, tidak memberikan permohonan beasiswa dan menghadiri konferensi yang diselenggarakan kalangan akademis Israel. Untuk itu, akan dibentuk Komite Inggris bagi Universitas-universitas di Palestina.

Meski demikian, gerakan anti Israel ini berjanji akan memberikan dukungan pada Israel yang mau bekerjasama dengan Palestina asalkan Israel memberikan kebebasan dan hak menentukan kebijakan akademis sendiri.

Ahli Filsafat dari St Mary College, Nur Masalha mengatakan, penggalangan sikap anti Israel di kalangan akademisi ini merupakan cara damai yang mereka tempuh agar dampaknya lebih berpengaruh.

"Kalau kami tidak melakukannya, tidak akan terjadi perubahan di Palestina. Selama ini orang-orang tidak sungkan-sungkan memboikot negara Afrika Selatan, kenapa tidak dengan Israel?" tegas Masalha.

Kordinator kampanye Hilary Rose menambahkan, penggalangan sikap anti Israel di kalangan akademisi di Inggris ini menandai makin meluasnya gerakan boikot terhadap negara zionis itu.

"Kami ingin masyarakat memahami tantangan moral dari gerakan boikot ini. Ini bukan persoalan gampang bagi para akademisi, ini adalah sebuah langkah ditengah keputus-asaan kami terhadap pemerintah yang tidak mampu mengendalikan situasi dengan serius dan menciptakan keadilan dan perdamaian."

Panitia konferensi membantah tuduhan kelompok Yahudi di Inggris yang menuduh mereka sudah menciptakan rasa kebencian. "Kami mempromosikan perdamaian dan pesamaan hak bagi rakyat Palestina," ujar Awad Joumaa, salah seorang panitia yang juga menjabat sebagai kordinator komunitas Palestina di Inggris.

Para pembicara yang hadir dalam konferensi tersebut antara lain Professor Steven dan Hilary Rose yang mulai menyerukan boikot Israel pada kalangan akademisi sejak 2 tahun lalu. Para peserta konferensi lainnya yang akan hadir antara lain ahli bahasa dari Institut Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Universitas Manchester, Mona Baker. Mona Baker pernah diperiksa oleh Universitas Manchester setelah ia memecat 2 orang Israel yang bekerja sebagai editor di journal yang dipimpinnya, sebagai partisipasinya untuk memboikot Israel.

Meski bertema anti Israel, sejumlah warga Yahudi, profesor dan mahasiswa asal Israel juga hadir dalam konferensi tersebut dan menyampaikan makalahnya.

Pelaksanaan konferensi yang menyerukan agar para akademisi memboikot Israel, bukan tidak menimbulkan masalah bagi jurusan studi Kawasan Timur dan Afrika, Universitas London, sebagai tempat penyelenggaraan konferensi tersebut.

Meskipun sudah menyatakan tidak ada kaitannya dengan pelaksanaan konferensi itu, pihak jurusan sudah banyak menerima ungkapan protes yang disampaikan melalui email. Bahkan ada tuduhan yang mengatakan bahwa jurusan tersebut anti Israel dan pro Arab.
Upaya menggalang sikap anti Israel di kalangan akademisi terus berlanjut. Komunitas warga Palestina di London, Inggris hari Minggu (5/12) menggelar konferensi bertema 'Strategi Melawan Kebijakan Diskriminatif Israel' di jurusan studi Kawasan Timur dan Afrika, Universitas London.

----------

Upaya menggalang sikap anti Israel di kalangan akademisi terus berlanjut. Komunitas warga Palestina di London, Inggris hari Minggu (5/12) menggelar konferensi bertema 'Strategi Melawan Kebijakan Diskriminatif Israel' di jurusan studi Kawasan Timur dan Afrika, Universitas London.

Konferensi itu menghasilkan sebuah manifesto yang isinya menyerukan agar kalangan akademisi memutus hubungan dengan Israel dengan cara menolak bekerjasama dengan institusi pendidikan Israel, tidak memberikan referensi bagi kegiatan penulisan skripsi, tidak memberikan permohonan beasiswa dan menghadiri konferensi yang diselenggarakan kalangan akademis Israel. Untuk itu, akan dibentuk Komite Inggris bagi Universitas-universitas di Palestina.

Meski demikian, gerakan anti Israel ini berjanji akan memberikan dukungan pada Israel yang mau bekerjasama dengan Palestina asalkan Israel memberikan kebebasan dan hak menentukan kebijakan akademis sendiri.

Ahli Filsafat dari St Mary College, Nur Masalha mengatakan, penggalangan sikap anti Israel di kalangan akademisi ini merupakan cara damai yang mereka tempuh agar dampaknya lebih berpengaruh.

"Kalau kami tidak melakukannya, tidak akan terjadi perubahan di Palestina. Selama ini orang-orang tidak sungkan-sungkan memboikot negara Afrika Selatan, kenapa tidak dengan Israel?" tegas Masalha.

Kordinator kampanye Hilary Rose menambahkan, penggalangan sikap anti Israel di kalangan akademisi di Inggris ini menandai makin meluasnya gerakan boikot terhadap negara zionis itu.

"Kami ingin masyarakat memahami tantangan moral dari gerakan boikot ini. Ini bukan persoalan gampang bagi para akademisi, ini adalah sebuah langkah ditengah keputus-asaan kami terhadap pemerintah yang tidak mampu mengendalikan situasi dengan serius dan menciptakan keadilan dan perdamaian."

Panitia konferensi membantah tuduhan kelompok Yahudi di Inggris yang menuduh mereka sudah menciptakan rasa kebencian. "Kami mempromosikan perdamaian dan pesamaan hak bagi rakyat Palestina," ujar Awad Joumaa, salah seorang panitia yang juga menjabat sebagai kordinator komunitas Palestina di Inggris.

Para pembicara yang hadir dalam konferensi tersebut antara lain Professor Steven dan Hilary Rose yang mulai menyerukan boikot Israel pada kalangan akademisi sejak 2 tahun lalu. Para peserta konferensi lainnya yang akan hadir antara lain ahli bahasa dari Institut Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Universitas Manchester, Mona Baker. Mona Baker pernah diperiksa oleh Universitas Manchester setelah ia memecat 2 orang Israel yang bekerja sebagai editor di journal yang dipimpinnya, sebagai partisipasinya untuk memboikot Israel.

Meski bertema anti Israel, sejumlah warga Yahudi, profesor dan mahasiswa asal Israel juga hadir dalam konferensi tersebut dan menyampaikan makalahnya.

Pelaksanaan konferensi yang menyerukan agar para akademisi memboikot Israel, bukan tidak menimbulkan masalah bagi jurusan studi Kawasan Timur dan Afrika, Universitas London, sebagai tempat penyelenggaraan konferensi tersebut.

Meskipun sudah menyatakan tidak ada kaitannya dengan pelaksanaan konferensi itu, pihak jurusan sudah banyak menerima ungkapan protes yang disampaikan melalui email. Bahkan ada tuduhan yang mengatakan bahwa jurusan tersebut anti Israel dan pro Arab.

bro_nis

bro