Jumat, 12 Desember 2008

boikot

Upaya menggalang sikap anti Israel di kalangan akademisi terus berlanjut. Komunitas warga Palestina di London, Inggris hari Minggu (5/12) menggelar konferensi bertema 'Strategi Melawan Kebijakan Diskriminatif Israel' di jurusan studi Kawasan Timur dan Afrika, Universitas London.

----------

Upaya menggalang sikap anti Israel di kalangan akademisi terus berlanjut. Komunitas warga Palestina di London, Inggris hari Minggu (5/12) menggelar konferensi bertema 'Strategi Melawan Kebijakan Diskriminatif Israel' di jurusan studi Kawasan Timur dan Afrika, Universitas London.

Konferensi itu menghasilkan sebuah manifesto yang isinya menyerukan agar kalangan akademisi memutus hubungan dengan Israel dengan cara menolak bekerjasama dengan institusi pendidikan Israel, tidak memberikan referensi bagi kegiatan penulisan skripsi, tidak memberikan permohonan beasiswa dan menghadiri konferensi yang diselenggarakan kalangan akademis Israel. Untuk itu, akan dibentuk Komite Inggris bagi Universitas-universitas di Palestina.

Meski demikian, gerakan anti Israel ini berjanji akan memberikan dukungan pada Israel yang mau bekerjasama dengan Palestina asalkan Israel memberikan kebebasan dan hak menentukan kebijakan akademis sendiri.

Ahli Filsafat dari St Mary College, Nur Masalha mengatakan, penggalangan sikap anti Israel di kalangan akademisi ini merupakan cara damai yang mereka tempuh agar dampaknya lebih berpengaruh.

"Kalau kami tidak melakukannya, tidak akan terjadi perubahan di Palestina. Selama ini orang-orang tidak sungkan-sungkan memboikot negara Afrika Selatan, kenapa tidak dengan Israel?" tegas Masalha.

Kordinator kampanye Hilary Rose menambahkan, penggalangan sikap anti Israel di kalangan akademisi di Inggris ini menandai makin meluasnya gerakan boikot terhadap negara zionis itu.

"Kami ingin masyarakat memahami tantangan moral dari gerakan boikot ini. Ini bukan persoalan gampang bagi para akademisi, ini adalah sebuah langkah ditengah keputus-asaan kami terhadap pemerintah yang tidak mampu mengendalikan situasi dengan serius dan menciptakan keadilan dan perdamaian."

Panitia konferensi membantah tuduhan kelompok Yahudi di Inggris yang menuduh mereka sudah menciptakan rasa kebencian. "Kami mempromosikan perdamaian dan pesamaan hak bagi rakyat Palestina," ujar Awad Joumaa, salah seorang panitia yang juga menjabat sebagai kordinator komunitas Palestina di Inggris.

Para pembicara yang hadir dalam konferensi tersebut antara lain Professor Steven dan Hilary Rose yang mulai menyerukan boikot Israel pada kalangan akademisi sejak 2 tahun lalu. Para peserta konferensi lainnya yang akan hadir antara lain ahli bahasa dari Institut Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Universitas Manchester, Mona Baker. Mona Baker pernah diperiksa oleh Universitas Manchester setelah ia memecat 2 orang Israel yang bekerja sebagai editor di journal yang dipimpinnya, sebagai partisipasinya untuk memboikot Israel.

Meski bertema anti Israel, sejumlah warga Yahudi, profesor dan mahasiswa asal Israel juga hadir dalam konferensi tersebut dan menyampaikan makalahnya.

Pelaksanaan konferensi yang menyerukan agar para akademisi memboikot Israel, bukan tidak menimbulkan masalah bagi jurusan studi Kawasan Timur dan Afrika, Universitas London, sebagai tempat penyelenggaraan konferensi tersebut.

Meskipun sudah menyatakan tidak ada kaitannya dengan pelaksanaan konferensi itu, pihak jurusan sudah banyak menerima ungkapan protes yang disampaikan melalui email. Bahkan ada tuduhan yang mengatakan bahwa jurusan tersebut anti Israel dan pro Arab.

Tidak ada komentar: