Rupanya Malaysia tidak pernah puas mengambil hak Indonesia. Rasa rendah diri terhadap musisi Indonesia yang jenius dengan lagu-lagunya itu diwujudkan dengan pembatasan peredarannya. Persatuan Karyawan Malaysia (Karyawan) memberikan kuota yang mereka inginkan 90:10 untuk lagu-lagu Malaysia berbanding lagu Indonesia. Tetapi anehnya, Malaysiakini mengatakan :
Kuota 90:10 untuk lagu Melayu berbanding lagu Indonesia di stesen radio swasta akan menjadikan “artis manja dan tidak produktif”, kata kumpulan pemuzik terkenal Meet Uncle Hussain.
Lebih baik serahkan saja kepada rakyat Malaysia untuk memilih lagu kesayangannya. Biarkan ada persaingan yang sehat. Secara jantan diadu saja musik Indonesia dengan musik melayu. Atau bagaimana kalau Malaysia mengadakan referendum untuk menentukan, setuju atau tidak pembatasan lagu-lagu Indonesia?. Aku yakin, Tidak!.
Bagaimana mau membatasi atau memboikot?.
Abu Bakar dari grup nasyid Raihan mengatakan protes sekelompok musisi Malaysia itu tidak pada tempatnya. Sebab musisi Malaysia masih menjadikan musik Indonesia sebagai referensi. Referensinya dari lagu Dewa, Gigi. Band-band baru pun nuansanya sudah seperti Indonesia punya band. Jadi mereka suka, bagaimana mau diboikot? Ini sebenarnya tidak pantas disuarakan oleh artis dari Malaysia.
Bagaimana dahsyatnya lagu Indonesia melibas lagu-lagu Malaysia, Amy Search menggambarkan jika jam 10 malam ke atas Malaysia sudah seperti Jakarta karena semua radio menyiarkan lagu-lagu Indonesia hingga dinihari.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar